Friday, December 12, 2014

GAULI UMAT BUDIAN DEMI KEMURNIAN HIDUP DUNIA DAN AKHIRAT



 “Disiarkan pada 13. 12. 2014”
“Orang berbudi kita berbahasa”, membawa maksud, jika kita dihidangkan oleh seseorang dengan tingkahlaku dan perangai yang mulia maka wajar kita diimbali dengan kata-kata yang dibalut dengan kemanisan serta kemuliaan, tatatertib yang sempuna kelak akan melahirkan kasih sayang yang menjemput kemurnian suasana ukhuwah kemanusiaan. 
                Pepatah Melayu mengatakan mengawal kerbau adalah dengan menggunakan talinya tetapi memimpin manusia wajar dengan menggunakan kata-kata lembut yang besifat mulia kelak akan menjemput jiwa mendukung  perasaan kasih sayang. Pembinaan akhlak dan budi perkerti yang unggul menjadi teras kesepaduan umat yang ada pada ciri-ciri keIslaman sebagai cara hidup.
                Membina masyarakat mukmin wajar dengan bibit-bibit bersifat budiman sebab merekalah yang dekat dengan Allah. Sifat Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Al-Rahman Al-Rahim, maka ciptaan-Nya wajar meyerupai acuan yang ada pada Sang Pencipta.
Jika kita mendekati orang yang memakai wangi-wangian, jasmani kita turut sama berbauh wangi. Dan kalau kita bergaul dengan orang yang tuturkatanya mulia maka kita akan turut sama membudayakan bahasa yang serupa.
                Bergaul dengan orang yang sentiasa konsisten memegang agamanya, akhlaq kita akan terdidik berbuat demikian tetapi jika bergaul dengan orang yang jauh dari agamanya dan mementingkan keseronokan dunia semata maka lambat laun kita sendiri turut sama berakhlak serupa. Maka itu mendidik jiwa kita mendekati Allah wajar mempelajari akidah Islam yang dibawa oleh baginda Rasul Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
                Allah Subhanahu wa Tala menciptakan manusia lengkap dengan berbagai fitrah yang membantunya dalam menangani kehidupan. Antara fitrah yang amat penting dalam menter- jemahkan Islam dalam diri kita ialah otak, akal, iman dan kemahiran berfikir. Akal merupakan rasul dalam diri kita maka untuk memahami kerenah-kerenah hidup wajar diletakkan pada peranan akal untuk mentafsirnya mengenai kemanfaatannya dalam pembangunan kehidupan.
                Kenali dirimu sebelum mengenali Tuhan merupakan satu budaya hidup orang-orang budiman. Mereka befikir dan mengkaji mengenai kemanusiaan dan kerohanian di mana menurut mereka berfikir adalah suatu alat untuk mengenali diri sendiri seperti mana yang telah dilakukan oleh Hamzah Fansuri, Abdul Rauf Al-Singkel dan lain ulama’ zaman Acheh, yang mengenali Tuhan, setelah terlebih dahulu mengenali diri sendiri.
                Gauli orang budiman merupakan satu langkah mendekati dan memurnikan hubungan antara Tuhan dengan manusia, makhluk-Nya yang terindah, terbaik dan paling sempurna. Kejadian manusia bermula dengan setitis air yang paling halus. Sesudah 40 hari  berubah menjadi segumpal darah, 40 hari kemudian berubah menjadi segumpal daging, lalu diberi kerangka tulang belulang dan urat syaraf, dan 40 hari kemudian ditiupkan kepadanya roh, sehingga sejak waktu itu  kita berubah menjadi makhluk yang hidup.
                Akhirnya kita dilahir ke dunia, memulakan hidup di alam yang luas ini merupakan anak bayi yang amat kecil dan lemah. Lama kelemahan semakin besar dan kuat, semakin bertumbuh akal dan fikiran, sehingga telah mencapai umur 18 tahun, kita menjadi manusia yang sempurna segalanya. Di antara kita ada yang meninggal di waktu masih muda dan ada pula yang mencapai umur lanjut, sampai 70 atau 80 tahun lebih.
                Semenjak kita berupakan setitis air yang amat halus, sampai kita mati di dalam umur 70 atau 80 tahun  atau lebih, setiap detik dengan tak putusnya, kita selalu dihujani rahmat dan nikmat oleh Tuhan yang menciptakan dan menghidupkan. Tidak pernah satu detik atau seperempat detik sekali pun kita putus dari rahmat Tuhan itu.
                Ribuan macam rahmat dan nikmat Tuhan datang dari  semua arah yang tidak putus-
putus sejak lahir sampai kita mati, Tuhan berikan kepada mu segala rupa keperluan hidup
Firman Allah dalam al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 14:34 yang bermaksud:
                “Dan dia memberikan kamu daripada setiap apa yang kami pinta. Dan sekiranya kamu coba menghitung nikmat Allah, sungguh kamu tidak akan sanggup menghitung kerana terlalu banyak, tetapi sayang masih banyak manusia yang zalim, tidak pandai berterma kasih atas nikmat Allah itu.
                Setelah Allah menyebutkan tentang nikmat-Nya yang besar itu dan dimudahkan-Nya bagi kegunaan dan maslahat hamba-hamba-Nya, lalu diterangkan-Nya pula di sini: Bahawa- sanya Allah itu tidak cuma dengan memberikan nikmat itu, bahkan juga mengurniakan kepada hamba-hamba-Nya apa sahaja yang mereka hajati asalkan sahaja mereka meminta kepada-Nya, malahan apa yang tidak  mereka pinta pun dikurniakan juga.
                Allah bukan hanya mencipta kita, tetapi saban detik dari kehidupan kita  Allah selalu  menghubungi kita dengan bermacam rahmat dan nikmat. Allah tidak pernah putus hubungan nya dengan kita.
                Nikmat Allah yang berupakan bumi dengan segala isinya, matahari bulan dan bintang dengan sinarannya, hawa, udara, air, buah-buahan yang menjadi keperluan hidup yang amat penting, adalah sebahagian kecil dari rahmat dan nikmat Allah itu. Apa lagi nikmat yang  berupa kaki, tangan, paru-paru, jantung dan semua bahagian dalam badan kita, yang berupa mata, hidung, otak dan fikiran, jiwa atau roh yang menghidupkan kita, adalah nikmat yang tidak dapat dinilai dengan emas dan perak sekalipun berapa saja banyaknya.
                Semua itu saban waktu dan ketika kita terima dan kita peroleh dari Allah yang menciptakannya, yang kita harus mengingatnya dan jangan sampai dilupakan begitu saja.
Coba kita renungkan dan khayalkan agak sejenak, alangkah susah dan sengsaranya seorang manusia yang ta’ mempunyai kaki atau  tangan. Kalau kita dapati seorang manusia tidak biberi Tuhan kaki atau tangan, itu adalah sebagai contoh dan peringatan kepada semua manusia, agar manusia ingat selalu akan hebat dan pentingnya nikmat Tuhan yang bernama kaki dan tangan itu.
Manusia sekalipun pintar dengan akal dan fikiran, dengan ilmu pengetahuannya, tetapi untuk mereka masih perlu contoh yang berupakan manusia yang cacat ta’ berkaki atau tidak bertangan itu.
Coba renungkan bagaimana sengsaranya manusia kalau tidak punya mata atau telinga, manusia yang buta atau pekak. Tuhan jadikan manusia ada yang buta dan pekak agar kita jadikan contoh, agar kita mengertilah faedahnya mata dan telinga, agar kita dapat merasakan hebatnya nikmat Allah yang bernama mata dan telinga itu.
Coba pula renungkan bagaimana sengsaranya menusia yang dicabut otak dan fikirannya, sehingga dia menjadi orang yang gila atau setengah gila. Kita seakan-akan tidak sampai hati membicarakan sengsaranya manusia yang gila atau setengah gila itu. Kalau Tuhan ciptakan pula manusia yang gila atau setengah gila, adalah sebagai contoh dan peringatan kepada setiap orang yang punya otak dan fikiran, yang tidak gila, supaya dapat menilai nikmat Allah yang bernama otak atau fikiran itu.
Pendik kata, tidak ada satu nikmat dari rahmat Allah yang kecil ertinya, tidak ada pemberian Allah yang rendah nilainya. Semua pemberian Allah mempunyai erti yang penting bagi hidup, mempunyai nilai yang amat tinggi dalam hidup manusia.
Kalau nikmat dan pemberian Allah begitu besar erti dan nilainya, maka sudah selayaknya semua manusia itu  jauh lebih besar erti dan jauh lebih tinggi nilainya.
Tetapi kenapa masih ada manusia yang berakal, yang begitu tinggi memberikan ert dan penilaian terhadap nikmat dan pemberian Allah, tetapi mereka ta’ sedikit pun jua memberi nilai terhadap Tuhan yang  menciptakan semua nikmat dan pemberian itu.
Manusia berakal yang semacam inilah yang dicap oleh Allah dalam ayat al-Qur’an sebagai manusia zalim, iaitu orang yang ganas dan aniaya pula sebagai manusia-manusia kaffar, yang ingkar ta’ tahu budi dan ta’ tahun membalas budi, iaitu yang hanya terbuka mata,
telinga dan mulutnya, tetapi tertutup pintu hati dan kalbunya.
Manusia semacam ini dapat jugalah merasakan sebahagian kecil kebahagian di dunia ini, tetapi tertutup baginya segala macam nikmat dan kebahagiaan di akhirat nanti.
Mencari teman yang baik merupakan satu jenis ibadah yang dianjurkan oleh Islam. Mengapkan para rasul diwujudkan Allah di dunia? Para rasul merupakan utusan Allah Suhanahu wa Tala untuk memimpin manusia  cara hidup yang betul dan mengenali Zat yang menciptanya.
Kehidupan dunia sekarang ini diciptakan Allah bukanlah satu cara penghidupan yang sempurna tetapi satu cara kehidupan yang tidak sempurna, satu kehidupan sementara, penghidupan yang penuh serba macam kekurangan, kekecewaan dan lain-lain sebagainya.
Perhatikanlah penyataa-penyataan Allah dengan perantaraan Kitab Suci-Nya Al-Qur’an dan Rasul-Nya Muhammad Sallallahi alahi wasallam.
Al-Imran ayat 3:185 – 186 yang bermaksud:
“Tiap yang berjiwa akan mengalami mati, dan tidak akan disempurnakan ganjaran kamu, kecuali pada hari kiamat. Kerananya, barang siapa dijauhi dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Syurga, maka selamatlah dia. Sedang penghidupan dunia ini tidak lain hanya benda tipuan saja.”
                Tiap-tiap nyawa atau jiwa seseorang itu akan merasakan bagaimana dia bercerai dari jasadnya, atau yang dinamakan mati. Sebenarnya nyawa itu tidaklah sekali-kali mati dengan sebab matinya tubuh badan atau jasad. Sebab yang merasakan itu, sesuatu yang masih wujud (ada)  sedang yang mati (tidak ada) tentu tidak dapat merasakan. Jadi nyawa itu kekal hidup, dan penceraiannya dari tubuh badan bagi seseorang itulah yang dinamakan mati. Dan kematian itu  mesti dirasai oleh tiap-tiap yang bernyawa.
                Upah dari amalan kamu – sama ada baik ataupun buruk – bakal diberikan oleh Allah pada hari kiamat. Malah kadang-kadang di dunia ini pun pernah upah itu dapat diterima secara tunai dengan tidak tertangguh-tangguh lagi. Dan sebelum menjelang datangnya hari kiamat, telah disongsong terlebih dahulu oleh peristiwa-peristiwa lain – sebagai pendahulun – yang akan diterimanya  di dalam kubur.
                Hal tersebut telah dikuatkan oleh kenyataan sebuah hadis marfu’ yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan at-Tobari berbunyi: Kubur itu merupakan taman dari taman-taman syurga, atau lubang dari lubang-lubang neraka.
                Di dalam kubur, roh orang yang baik itu akan merasakan kenikmatan syurga,  dan roh orang yang jahat pula akan merasakan seksa neraka.
                Orang yang dapat menghindarkan dirinya dari terkena seksa lalu berusaha untuk memperoleh pahala, berjayalah ia. Jelasnya, Allah itu ada menyediakan syurga dan neraka pembalasan amalan-amalan manusia. Dan manusia itu tidak dapat memasuki syurga sebelum ia menjauhkan dirinya – terlebih dahulu – dari neraka. Yang bermakna: Sebelum dapat mengalahkan nafsu kebinatangannya yang sentiasa mengajaknya ke neraka, maka selama itu sukarlah baginya untuk memasuki syurga, dan dengan demikian payahlah ia akan terselamat atau memperolehi kejayaan.
                Kelezatan hidup yang lahir – seperti makan, minum dan bersuka-sukaan – begitu pula kelezatan hidup yang batin seperti kebesaran, ketinggian pangkat dan kekuasaan, semuanya itu dapat memperdayakan manusia. 
                Manusia yang sedang menikmati kelezatan-kelezatan hidup yang seperti itu biasanya akan terlena, hanyut dibawa oleh arus kelezatannya, asyik dengan menuruti nafsu dan selera nya. Hendaklah manusia itu menyedari bahawa semua kelezatan dan kemewahan hidup itu tidak dapat dijamin boleh memberikan kepuasan sepenuhnya. Jika diturutkan kemahuan nafsu, sememangnya nafsu itu tidak mengenal puas selama-lamanya. Kerana setiap ia merasa kan kelezatan, dicarinya bagi tambahannya. Dan setiap ia mengecap kemewahan, dicarinya lagi hingga tidak ada kesudahan.
                Ayat ini mengingatkan manusia, manakala menikmati kelezatan hidup dan kemewa
hannya, janganlah lupa akan kedudukannya sebagai manusia yang mesti memperlengkap dirinya dengan serba serbi ilmu pengetahuan, dan menghiasi dirinya dengan budi pekerti yang mulia serta akhlak yang tinggi. Kerana manusia itu bukanlah jenis haiwan yang mudah diperdayakan oleh kelezatan atau dikalahkan oleh kemewahan.

Friday, December 5, 2014

KHUSYUK DAN TAWADUK KESEMPURNAAN IBADAH

 (Disiarkan pada 6. 12. 2014)
Dalam melaksanakan ibadah kerana Allah seseorang itu memerlukan dua fakulti dalam dirinya sebagai hamba Allah. Orang yang mendirikan solat disiplin kekhusyukkan amatlah diperlukan. Khusyuk bermaksud  dengan punuh tumpuan kepada ibadah yang dilaksanakan. Mendirikan solat, tumpuan atau concentration dalam minda kita ialah Allah Subhanahu wa Tala.
Tawaduk adalah satu daripada sifat yang terpuji iaitu merendahkan diri, tidak sombong, tidak membesarkan diri, tidak angkuh. Pemimpin yang baik dan berwibawa wajar mempunyai akhlak yang bersifat  tawaduk. Abu bakar, sahabat Rasul Nabi Muhammad shallallhu alahi wasallam adalah pemimpin yang mempunyai sifat rendah diri atau tawaduk terhadap rakyat di bawah pimpinannya.
Setelah dia dipilih menjadi pemimpin (Khalifah) beliau berpidatuk di hadapan orang-orangnya dan menyampaikan amanat yang berunsur tawaduk. “Saya telah dipilih oleh kamu menjadi pemimpin tuan-tuan. Jika saya lari dari kepimpinan yang adil tegur saya dan jika saya laksanakan tuga saya dengan adil dan saksama sokong saya”.
Begitulah sifat pemimpin yang tawaduk. Dia tidak meloncat  tinggi dan merasa sombong malah perasaan rendah diri semakin memuncak kerana ia memikirkan bahawa menjadi pemimpin adalah satu tanggungjawab yang berat. Kalau mengikut hatinya, ia tidak mahu menjadi pemimpin tetapi oleh kerana kecintaannya kepada rakyat yang inginkan kepimpinannya maka dia menerima tugas dengan penuh keikhlasan.
Pemimpin yang amat berwibawa dan cintakan kepada rakyatnya berkata: “Kalau rakyat saya  kaya biarlah saya orang yang terakhir merasa kenyang; tetapi jika rakyat saya jatuh miskin biarlah saya orang yang pertama merasa kelaparan”. Inilah sifat tawaduk atau rendah diri. Dia meletakkan dirinya sebagai orang yang terakhir merasa kenikmatan dalam menempuhi kekayaan dan mendahului rakyatnya dikalah kesusahan melanda kehidupan mereka.
Orang yang melaksanakan ibadah solat adalah orang yang tawadhu kerana Allah Subhanahu wa Tala. Dalam diri seseorang itu bahagian kepalalah yang amat kita sayangi dan hormati kerana disitulah letaknya organ otak sebagai pusat pemprosessan maklumat. Dalam erti kata lain organ otak adalah CPU atau central Processing Unit dalam kehidupan manusia.
Jika bergurau dengan kawan ia memukul tangan kita, masih kita senyum; dipukul belakang kita masih kita bersabar. Tetapi dipukul kepala kita jangan coba-coba! Kerana bahagian kepalalah yang kita jaga dan kita sayangi benar kedudukannya dalam badan kita. Tetapi semasa mendirikan sembahyang kepada Allah Subhanahu wa Tala kita sujud dengan meletakkan kepala kita sama rata dengan telapak kaki, Allahuakbar, tiada yang lebih besar, lebih tinggi kekuasaannya dan lebih disayangi dan dihormati selain kekuasaan Allah Subhanahu wa Tala. 
Dalam diri seseorang yang mendirikan solat paling penting ialah kekhusyukkannya kepada Allah. Pada kebiasaannya semasa mendirikan solat minda kita sukar memberi tumpuan  kepada yang disembah kerana sibuk melihat dengan mata hati kita pengalaman yang telah dilalui sebelum mendirikan solat. Orang yang boleh mengawal mindanya dan hanya khusyuk kepada Zat Yang Maha Berkuasa adalah orang yang mempunyai iman yang mantap.
Kekhusyukan dalam melaksanakan ibadah sewajarnya telah berjaya menutup pancaindera yang lain seperti pendengaran, perasaan pada sentuhan, penglihatan, menghidu dan sebagainya. Pendengaran, penglihatan dan menghidu merupakan fakulti iman yang kalau dapat dikawal semasa mendirikan solat, hubungan kita dengan Allah Subhanau wa Tala dapat dimanfaatkan.
Penglihatan dan pendengaran merupakan dua fakulti iman yang amat sukar dikawal semasa mendirikan solat. Deria-deria tersebut mudah menggugat tumpuan kita dalam sembahyang kerana kedua-duanya mempunyai hubungan yang rapat kepada pemikiran kita. Penglihatan mempunyai dua salurannya seperti melihat kepada pengalaman dengan menggunakan mata hati kita atau pemikiran dan kedua melihat kepada yang disaksikan semasa solat dengan menggunakan mata kepala sendiri.
Kadang-kadang kita mendengar orang berkata: “I see but I don’t look”, membawa maksud dia nampak tetapi tidak melihat. Orang yang dalam kekhusyukan, matanya nampak sesuatu tetapi sebenarnya dia tidak melihat. Maklumat yang dipandang oleh mata tidak dapat disalurkan kepada otak untuk diproses maklumatnya kepada mata maka itu tidak sampai kepada kefahaman mengenai apa yang dipandang oleh mata.
Begitu juga dengan sentuhan pada perasaan. Jika orang itu dalam kekhusyukkan memikirkan tentang sesuatu maka apa yang dirsentuh oleh kulit badannya, perasaan itu tidak sampai maklumatnya kepada otak untuk diproses. Maka dia tidak merasai apa yang menyentuh badannya.
Sayidina Ali a.s. pada suatu ketika mengalami penyakit bisul dalam badannya di bahagian belakang. Ia tidak memecakan bisulnya sebab beliau kurang mampu menahan kesakitan. Maka itu ia meminta rakannya untuk memecanya semasa beliau mendirikan solat. Beliau memilih masa yang dia sedang khyusuk solat kerana pancaindera pada sentuhan tertutup kerana otaknya menumpukan kepada Allah Suhanahu wa Tala yang disembah sahaja. Maka itu orang yang mendirikan solat wajar khusyuk memikirkan Allah agar solatnya bermanfaat.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an ayat 23:1-2 yang bermaksud: “Benar-benar telah beruntung orang-orang yang beriman (iaitu orang-orang yang khusyuk dalam solat mereka).”
               Khyusuk  dimaksudkan “merendah diri dan merendah hati”. Dia mempunyai dua pengertian, iaitu pertama pada segi perbuatan hati yang tidak nampak. Kedua pada segi perbuatan anggota lahir yang nampak.
Adapun sehabis-habis khusyuk di dalam sembahyang ialah orang yang merendah diri kepada yang disembah dan hatinya sedikitpun tidak terlintas untuk mengingati yang lain kecuali Allah semata-mata, yakni ingatannya hanya tertumpu kepada Allah. Inilah perbuatan hati.
Adapun merendah diri atau khusyuk dengan perbuatan anggota lahir pula, iaitu semasa sembahyang dia tidak  menoleh-noleh, tunak sahaja (tidak bergerak) tidak memejamkan mata, hanya memandang ke tempat sujudnya, hinggalah tidak menyedari siapa yang ada di kanan dan di kirinya. Maka khusyuk yang sebaik-baiknya, ialah yang meliputi kedua-duanya sekali, iaitu segi perbuatan hati dan perbuatan anggota lahir.
Dalam hubungan ini Aisyah telah meriwayatkan katanya: Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahi alaihi wasallam berkenaan menoleh-noleh di dalam sembahyang, Baginda menjawab: “Itu curi pandang dari perbuatan syaitan semasa seorang hamba itu sedang sembahyang”.
Daripada Abu Dzar pula meriwayatkan, bahawa Nabi Shallallhi alaihi  wasallam telah bersabda:
“Allah masih lagi berhadap-hadapan dengan seorang hamba yang sedang dalam sembahyang selagi hamba itu tidak menoleh. Maka apabila menoleh, Tuhan akan berpaling daripadanya”.
Firman Allah dalam al-Qur’an surah Taha ayat 20:14 yang bermaksud:
“Sesungguhnya  Aku ini ialah Allah, yang tidak ada Tuhan melainkan Aku, oleh sebab itu  sembahlah Aku dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati Aku.”
Di sini Allah menjelaskan apa yang penting sekali di dalam wahyu yang disampaikan kepada Nabi Musa iaitu, mula-mula yang wajib atas orang mukallaf ialah mengakui serta mengetahui bahawasanya tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Begitu pula dirikanlah sembahyang mengikut peraturan yang Aku perintahkan kepadamu dengan sempurna syarat rukunnya, dan gunanya sembahyang itu ialah untuk mengingat Aku dan memohon kepada-Ku apa yang engkau hajati dengan ikhlas – tidak bercampur perbuatan syirik atau ditujukan kepada yang lain.
Dikhaskan sebutan sembahyang dari lain-lain ibadat di sini, kerana sembahyang itu mempunyai kelebihan daripada yang lain. Sebab di dalam sembahyang, orang dapat mengingati Tuhan yang disembah, dan melupakan segala ingatan yang ada di dalam hati. Seterusnya sembahyang itu jika diamalkan akan dapat mencegahkan seorang daripada perbuatan keji dan yang salah.
Khusyu’ dalam solat merupakan kesempurnaan amal ibadah seorang mukmin. Ketahui lah sesunggunya ada riwayat, bahawa yang petama kali dilihat dari amal seorang hamba besok hari kiamat adalah solat. Apabila solatnya ditemukan  sempurna, maka diterimalah solat itu  dan seluruh amalnya yang lain. Tetapi apabila solatnya ditemukan kurang sempurna dikembalikanlah solat itu kepadanya dan seluruh amalnya yang lain. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Perumpamaan solat maktubah adalah seperti timbangan. Sesiapa yang memenuhi solatnya, akan dipenuhi timbangan itu.”
Baginda mengisyaratkan tentang kekhusyukkan, “Allah tidak akan melihat seorang hamba besok hari kiamat yang tidak meluruskan, menegakkan tulang punggung di antara ruku dan sujudnya,” Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sesiapa yang solat pada waktunya, menyempurnakan wuduk dan rukunya, sujud dan kekhusyukkannya, maka  solat itu diangkat ke langit dalam keadaan terang cemerlang.”
Solat itu berkata, “Mudah-mudahan Allah memeliharamu sebagaimana engkau telah memeliharaku”. Dan sesiapa yang solat tidak pada waktunya, tidak menyempurnakan wuduknya dan tidak menyempurnakan rukuk, sujud, dan kekhusyukkannya, maka solat itu diangkat dalam keadaan gelap dan hitam kelam. Solat itu berkata, “Mudah-mudahan Allah mensia-siakanmu sebagaimana kamu telah mensia-siakanku.
Solat adalah tempat bekhudu’an (ketenangan semua anggota tubuh) dan sumbur tawaduk dan khusyu’. Semua ini adalah ciri solat diterima. Kerana untuk sah  dan diterimanya solat itu ada syaratnya. Syarat sahnya adalah melaksanakan kewajipan solat itu, sedang syarat diterimanya solat adalah khusyu’.
Ahli makrifat mengatakan, “Solat itu ada empat syarat hal, melaksanakannya dengan ilmu, berdiri dengan rasa malu, menunaikannya dengan disertai sikap mengaggungkan dan keluar darinya dengan disertai rasa takut.” Sebahagian Masyayikh berkata, “Sesiapa yang tidak membulatkan hatinya dengan sungguh-sungguh maka rosaklah solatnya.” Dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“ Di dalam syurga terdapat sebuah sungai yang disebut Alfiyah, di dalamnya terdapat bidadari-bidadari yang diciptakan Allah dari za’faron.”
Mereka mempermainkan mutiara dan yaqut serta membaca tasbih kepada Allah dengan tujuh puluh ribu bahasa. Suara  mereka lebih merdu dari suara Nabi Daud as. Mereka berkata, “Kami diperuntukkan bagi orang yang mengerjakan solatnya dengan khusyu’ dan kehadiran hati.” Allah lalu berfirman,
Dikatakan sesungguhnya ramai orang yang melakukan solat tetapi orang yang khusyu’ di dalam solatnya adalah sedikit. Ramai orang yang beribadah haji tetapi yang berbuat baik hanya sedikit. Dan ramai orang yang alim, tetapi sedikit yang beramal. Allah Subhanahu wa Tala berfirman:
“Benar-benar beruntung orang-orang yang beriman. Orang-orang yang khusyu’ di dalam solatnya.” (Al-Mukminu: 23:1-2)
Allah Subhanahu wa Tala berfirman:

               “Sesungguhnya Allah hanya menerima solat dari orang-orang yang bertakwa”. (Al-Maidah 5:27).

Friday, November 21, 2014

AGAMA ISLAM MEMBUAHKAN KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT

 (Disiarkan pada 22. 11. 2014)
Dalam hidup kita memerlukan kebahagiaan. Hidup beragama wajib untuk menempuhi kebahagiaan. Maka itu agama merupakan nadi kesempunaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dunia merupakan semaian benih-benih kebahagiaan untuk menempuhi kehidupan akhirat nanti. Walaubagaimana pun dunia merupakan tempat lahirnya berbagai karenah-karenah serta ranjau-ranjau kehidupan yang kalau tidak ditangani dengan iman dan takwa kepada Allah Subhahanu wa Tala, akan mengakibatkan kecacatan pada kehidupan di dunia dan lebih-lebih lagi di akhirat kelak.
Kewujudan makhluk manusia di dunia diamanahkan Allah Subhanahu  wa Tala sebagai pemakmur alam kehidupan dengan catatan bahawa ilmu(akidah), akal dan iman menjadi sajian dalam memurnikan kekhalifahannya yang bersifat adil, sempurna dan saksama. Dalam menjalankan amanah yang diperintakan Allah Subhanahu wa Tala, ganjaran pahala merupakan imbalannya yang menjadi bekalan hidup bahagia nanti di akhirat kelak, InsyAllah!
Syurga dunia dan syurga akhirat mempunyai ciri-ciri yang bertentangan antara satu sama lain. Manusia (Adam) pada mulanya telah diwujudkan Allah Subhanahu wa Tala di syurga bersama pasangannya Siti Hawa untuk menempuhi kebahagian hidup yang mutlak, tetapi mereka telah mengkufuri kebahagian hidup itu maka Allah tempatkan mereka  di dunia  untuk meneruskan hidup sebagai hamba Allah Subhanahu wa Tala.
Mengkufuri kebahagian hidup mutlak di syurga memaksa Tuhan menempatkan manusia di dunia buat sementara waktu di mana kebahagian itu semestinya diusahakan yang bersifat tawakal untuk mendapatkannya. Kebahagian hidup yang bersifat sementara di dunia akan mencacatkan kebahagian akhirat jika tidak ditangani dengan kesempurnaan iman dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Tala. Keadaan demikian berlaku disebabkan kelicikan makhluk iblis dan syaitan memporak porandakan manusia menangani kebahagian hidup di dunia tersebut.
Fitrah yang ada pada manusia juga seperti nafsu syahwat serta keinginan naluri dalamannya menjemput perlakuan yang mengkufuri keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Tala kelak mengundang kedosaan.  
Makhluk iblis  telah diusirkan oleh Allah dari syurga-Nya disebabkan sikap iblis yang sombong tidak mematuhi perintah Allah untuk sujud (tanda hormat) kepada manusia kerana manusia adalah lebih mulia dan pintar daripada makhluk ciptaan Allah yang lain. Keberadaan iblis di dunia telah berjanji  kepada Allah, akan membinasakan manusia kerana gara-gara manusialah maka iblis dikeluarkan dari hidup bahagia yang kekal di syurga Allah Suhanahu wa Tala.
Permintaan iblis itu direstui Allah Subhanahu wa Tala dengan catatan bahawa manusia yang dekat dengan Allah, iblis tidak mampun mengodanya. Manusia yang lemah imannya kerana jauh dari Allah Suhanahu wa Tala sahaja yang iblis dapat mengganggu kebahagian hidupnya di dunia. Maka itu Allah turunkan agama Islam sebagai perisai manusia menentang kemaraan iblis memporak porandakan pembangunan kehidupan manusia.
Akidah Islam sebagai permurni kehidupan di dunia serta membentangkan dan membetulkan cara hudup yang diredhai Allah Subahanahu wa Tala. Maka itu manusia yang memelihara ilmu tauhid sahaja yang akan mendapat kehidupan yang sempurna yang kekal di akhirat (syurga) nanti setelah selesai agenda di dunia.
Persepsi manusia mengenai falsafah kehidupan di dunia tidak menentu disebabkan masalah menangani diri sebagai pemakmur alam kehidupan. Setiap insan Allah bekalkan nikmat kehidupan berupa fitrah yang cukup untuk mencapai kebahagian dan kemurnian hidup dilandasan yang diredhai Allah Subhanahu wa Tala.
Fitrah-fitrah tersebut adalah berpasangan dan terpulanglah kepada manusia untuk memilih mana pasangan yang diguna untuk menangani kehidupan. Tersilapnya memilih fitrah hidup yang kiblatnya keduniaan semata maka kerugian hidup akan ditempuhi yang akan membawa kesangsaraan hidup diakhirat nanti setelah selesai agenda di dunia berakhir.
               Fitrah akal diwujudkan dalam dua dimensi iaitu akal kemalaikatan dan akal kehai- wanan. Akal kemalaikatan misinya syurga manakala akal kehaiwanan yang bersifat iblis tentunya  distinasinya neraka jahanam.
               Kedatangan agama Islam membantu manusia menegakkan serta menguatkan iman kepada Allah Subhanahu wa Tala untuk membetulkan persepsi ibadah manusia yang diredhai Allah Subhanhu wa Tala. Dalam erti kata lain hidup dengan iman kepada Allah Subhanahu wa Tala merupakan nadi pembangunan ummah dan menjadi perisai dari  dicorobohi oleh elemen-elemen yang membawa kepada kekufuran.
               Puncak kebaikan adalah redha Allah terhadap hamba-Nya. Itulah pahala dari redha seorang hamba terhadap Allah Subhanahu wa Tala. Firman Allah dalam al-Quran surah At- Taubah ayat 72 yang bermaksud: “Dan tempat-tempat tinggal yang bagus di syurga ‘Adn dan keredhaan Allah adalah yang lebih besar.”
               Mengikut kata mufassirin syurga ‘Adn merupakan tempat tinggal yang penuh kenikmatan, serupa dengan syurga Firdaus, iaitu sebuah syurga yang paling tengah atau yang paling atas kedudukannya di antara syurga –syurga yang lain.
               Solat merupakan ibadah yang paling utama. Para ulamak mengkatigorikan solat sebagai tiang agama. Sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, “Tidaklah seorang hamba diberi pemberian yang lebih baik daripada dia diberi izin dua rakaat.” Muhammad bin Sirin berkata, “Seandainya aku disuruh memilih antara solat dua rakaat dan syurga tentu aku akan memilih solat dua rakaat itu, kerana sesungguhnya dalam solat dua rakaat terdapat redha Allah Subhanahu wa Tala, sedang di dalam syurga terdapat redhaKu.
               Dikatakan, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Tala ketika mencipta tujuh langit, Dia memenuhinya dengan malaikat-malaikat dan memerintahnya untuk mengerjakan ibadah solat. Mereka tidak pernah berhenti sesaat pun. Penghuni Illiyyin dan penghuni Arasy selalu berdiri mengelilingi sekitar arasy, dengan membaca tasbih memuji kebesaran Tuhan mereka dan memohonkan ampun untuk orang-orang di bumi.
               Agama membuahkan kebahagian dunia dan akhirat dengan  catatan bahawa manusia memelihara amanat yang dipertangunjawabkan oleh Allah Subhanahu wa Tala. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 72 yang bermaksud:
“Sesungguhnya Kami (Allah) telah memberikan amanat (tanggungjawab) itu kepada langit dan bumi dan gunung-gunung, tetapi mereka enggan untuk memikulnya dan takut kepadanya, dan manusia pula mahu memikulnya. Sesungguhnya dia adalah aniaya lagi tersangat jahilnya.”
Ayat ini meriwayat bahawa manusia itu telah dijadikan oleh Allah ada mempunyai persediaan untuk menerima bebanan iaitu tanggungjawab yang berupa amanat. Namun demikian, amanat yang diterimanya itu oleh setengah manusia telah diabaikannya, sehingga ia berlaku aniaya terhadap dirinya, dan bertindak secara jahil terhadap perintah Tuhannya.
 Amanat Allah yang dipertanggungjawabkan kepada manusia ialah bebanan dari segi keagamaan seperti sembahyang, puas, zakat, haji, bercakap benar, menjelaskan hutang, menyukat dan menimbang dengan cukup, bahkan anggota badan dan kehormatannya hendaklah digunakan sesuai dengan maksud ia dijadikan dan lain-lain perkara lagi.
               Maka dia dinamakan “amanat” kerana dia merupakan kewajipan-kewajipan yang ditetapkan oleh Allah kepada orang-orang mukallaf sebagai suatu amanat. Menurut Al-Qurthubi, “Amanat itu menyeluruh kepada semua kegiatan agama menurut yang sahih dari pendapat-pendapat ulama.”
               Mengapakah manusia yang ada mempunyai persediaan untuk menerima bebanan itu setengah telah mengabaikannya. Hal ini tidak lain kerana pada diri manusia itu terdapat naluri atau pembawaan suka marah yang mengakibatkan ia berlaku aniaya dan zalim. Begitu juga ingin menuruti kemahuan nafsu syahwatnya yang mengakibatkan ia jahil untuk mengambil dan memperhatikan terhadap kesudahan sesuatu perkara. Oleh itu Allah bebenkan kewajipan-kewajipan agama kepadanya, maka bebanan-bebanan itulah yang menjadi pengekang dari mengikuti berterus-terusan kehendak nalurinya yang tidak terbatas, agar tidak celaka.
               Pangkal dari ketaatan adalah mengetahui Allah, takut kepada Allah, mengharapkan pada Allah, dan muqarabah kepada Allah. Apabila  seorang hamba kosong dari perkara-perkara ini, maka dia tidak dapat menemukan hakikat dari iman. Kerana sesungguhnya ketaatan kepada Allah tidak  sah, kecuali setelah mengetahui Allah dan iman dengan wujud-Nya sebagai pencipta Yang Maha Megetahui, Maha Kuasa, tidak sebuah pengertian pun dapat menjangkau-Nya dan tidak sebuah dugaan pun dapat menggambarkan-Nya.
               “Tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya dan Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Kita tidak mampu melihat-Nya dengan mata penglihatan tetapi hati ini melihat-Nya dengan hakikat iman, tidak  dapat diraba dengan panca indera dan tidak menyerupai manusia. Dapat dikenal dengan beberapa tanda dan dapat disebutkan dengan  beberapa alamat dan tidak melintasi batas dalam keputusan. Itulah Allah, tiada Tuhan kecuali Dia.
               Sebahagian orang arif pernah ditanya tentang ilmu batin. Dia berkata, “Dia merupakan sebuah rahsia dari rahsia Allah, Dia memasukkannya dalam hati kekasih-Nya dan tidak Dia perlihatkan kepadanya, baik malaikat atau manusia.
               Sekiranya  pengetahuan Ketuhanan sudah menancap maka, akan muncul pengakuan kehambaan, dan sekiranya keimanan sudah tertanam di dalam hati, maka suatu keharusan adanya ketaatan kepada Tuhan. Iman ada dua macam, zahir dan batin. Iman zahir adalah ucapan lisan, sedang batin adalah keyakinan dalam hati.
               Aqidah dari sudut istilah yang am adalah kepercayaan atau keimanan yang muktamad tanpa sedikit pun rasa syak dan ragu-ragu bagi orang yang berpegang kepada kepercayaan itu. Takrifan ini adalah umum merangkumi kepercayaan aqidah yang hak mahupun yang batil (palsu), apa yang penting adalah aqidah yang dipegang di dalam hati penganut aqidah tersebut.
               Aqidah Islamiyyah adalah istilah khusus yang merujuk kepada keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Tala dengan melaksanakan segala kewajipan, mentauhidkan-Nya dan taat kepada-Nya, beriman kepada para malaikat –Nya, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhirat, takdir baik dan buruk serta mengimani seluruh apa yang telah sahih tentang prinsip-prinsip agama atau usuluddin, perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ salafussaleh, serta seluruh  berita-berita qat’i (pasti), baik secara ‘ilmiyyah mahupun secara ‘amaliyah yang telah ditetapkan menurut  al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih serta ijma’ para ulama. (Mohd. Aizam bin Mas’od: Isu Aqidah dan Pemikiran Semasa di Malaysia. “Ahli sunnah  wal-Jamaah: Aqidah Wasatiyyah Definisi Aqidah”. hal 22).
               Hukum wasatiyyah dalam aqidah adalah wajib sebagaimana yang disyariatkan dalam beberapa firman Allah Subhanahu wa Tala yang menegah daripada sikap melampau umat-umat terdahulu dalam berakidah. Firman Allah Subhanahu wa Tala Surah  al-Nisaa ayat 171 yang bermaksud:
“Wahai ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) janganlah kamu mengatakan sesuatu terhadap Allah melainkan yang benar.” 
Begitu jua firman Allah Subhanahu wa Tala Surah al-Ma’idah ayat 77 yang bermaksud:
“Katakanlah: Wahai ahli Kitab! Janganlah kamu melampau dalam agama kamu secara yang tidak benar, dan janganlah kamu menurut hawa nafsu suatu kaum yang telah 
tersesat (jauh) dari jalan yang betul.”
               Islam adalah agama ilmu dan setiap penganutnya diwajibkan untuk mengilmukan diri sebagai satu cara mendekatkan Allah Subhanahu wa Tala. Walau bagaimana pun memper- olehi ilmu adalah satu perkara dan mengamalkan ilmu itu atau menterjemahkan dalam kehidupan adalah perkara utama. Ilmu dan amal wajar berikutan untuk menempuhi kebahagian hidup dunia dan akhirat. Baginda Rasul Nabi Muhammad shallallahu alahi wasallam telah memberi contoh kepada umatnya sehingga Siti Aisah mengatakan bahawa akhlaq Nabi ialah Al-Qur’an.

               Mempelajari isi al-Qur’an dan menterjemahkannya ke dalam kehidupan wajib pada setiap mukmin sebagai jaminan kebahagian hidup di dunia dan juga akhirat kelak. Al-Qur’an adalah dokumen wahyu Allah yang diturunkan kepada manusia untuk memahami hidup ini sebagai ibadat. Maka peliharalah akhirat demi keselamat dunia dan peliharalah agama demi memartabatkan dunia sebagai semaian pahala yang akan menimang kita di akhirat nanti. Insya-Allah 

Saturday, November 15, 2014

PENULIS RUANG BICARA MINDA TOKOH MAAL HIJRAH 1436H/2014M

 (Disiarkan pada 15. 11. 2014)
Berkelulusan Sarjana dalam Pendididkan dari Universiti Southern Illinois at Carbondale Amerika Syarikat, Datuk Haji Mohd Farid Linggi (HAMFAL), selaku columnist atau penulis ruang Bicara Minda, The News Sabah Times  sejak bulan Jun 2002; telah dianugerah Tokoh Maal Hijrah oleh Yang di-Pertua Negeri Sabah Tun Datuk Seri Panglima Haji Juhar bin Datuk Haji Mahiruddin, sempena sambutan Ma’al Hijrah Peringkat Negeri  1436H/2014.
Datuk  telah bersara dalam perkhidmatan kerajaan di Jabatan Pendidikan, sebagai guru, pensarah, pentadbir dan pengetua pada 22 Disember 1989. Kini, Datuk aktif sebagai pendakwa bebas melalui penulisannya dalam ruang “Bicara Minda”.  
“Perpaduan Nadi Transformasi Negara”, Tema Maal Hijrah kali ini; di mana Datuk telah menyumbangkan berbagai pemikiran mengenai suasana perpaduan dalam pembangunan ummah melalui penulisannya. Sejak Datuk menjadi columnist atau penulis ruang yang disiarkan pada hari Sabtu setiap minggu, telah menghasilkan beberapa buah buku (13 buah) khusus penekanan kepada dakwa Islamiah sebagai cara hidup (addin), serta melapuhtinggikan budaya ukhuwah kemanusiaan dalam membangunkan negara.
 Setakat ini Datuk telah menerbitkan empat buah buku masing-masing bertajuk: Samudera Kemahiran Hidup, diterbitkan oleh Datuk sendiri; Kehidupan Dalam Tiga Dimensi, diterbit oleh Pustaka Syuhada, Kuala Lumpur; Kebudayaan Suku Kaum Ganna, diterbit oleh Persatuan Masyarakat Ganna Sabah; dan Warna-Warni Kehidupan, diterbit  oleh Al-Hidayah Kuala Lumpur. Kesemua buku tersebut memaparkan intisari perpaduan dalam menangani pembangunan berteraskan Islam sebagai agama Allah Subhanahu wa Tala.
Sebuah buku yang sedang dicetak untuk diterbit oleh Sandapak Enterprise, Keningau bertajuk: “Profesion Keguruan Membina Tamadun”, yang memperincikan ibadah seorang pendidik demi memanusiakan manusia! Pembangunan ummah berlandaskan ilmu yang membetulkan persepsi manusia ke jalan yang diredhai Allah Subhanahu wa Tala.
Sebuah karya Datuk yang sedang diedit sebelum diterbit, bertajuk: “DIMENSI IMAN LAMBANG KEUNGGULAN ISLAM”, mempunyai 473 muka. Buku ini menghuraikan mengenai asas utama terbinanya mayarakat mukmin ialah akidah Islam. Amanah yang dipertanggngjawabkan kepada masyarakat Islam ialah memelihara, menjaga, dan menegakkan akidah Islam serta menyinarkan cahayanya ke seluruh cakerawala alam kehidupan.
Ada sembilan buah buku yang siap ditulis  menungguh diterbit seperti: Iman dan Takwa Kepada Allah S.W.T. Kesempurnaan Hidup Akhirat; Mutiara Hidup; Konsep Islam Sebagai Addin; Samudera Kehidupan; Jendela Iman; Istiqamah Beribadat Kesempurnaan Hidup Dunia dan Akhirat; dan sekarang ini Datuk sedang menulis  buku bertajuk “Tanam Padi Rumput Turut Tumbuh Sama Tetapi Tanam Rumput Padi Tidak Ikut Tumbuh”. Falsafah disebalik pengertian tajuk ini ialah hidup dengan agama (ilmu Akhirat), dunia ikut sama terbelah tetapi jika hidup untuk kemanfaatan dunia semata maka akhirat tidak akan terpelihara.
Karya Datuk yang bertajuk: “Konsep Islam Sebagai Addin” mempunyai 10 Bab. Dalam Bab ke dua - “Ilmu Merupakan Zata Rohani”. Datuk memperincikan konsep perjuangan ‘mengagamakan ilmu’ sebagai perpaduan ummah. Kesempurnaan  kewujudan manusia adalah disebabkan kehadiran akal dan pemikiran (ilmu), yang dapat memandu manusia untuk mengenali diri dan memahami fenomena alam kehidupan.
Walaubagaimana pun ilmu semata tidak membawa kepada tranfomasi pemikiran manusia yang sempurna tanpa kehadiran ilmu agama. Ilmu akidah yang akan membuka cakerawala kefahaman mengenai keEsahan, Kekuasaan, Keunggulan dan Keagungan Tuhan yang bertanggingjawab dalam mewujudkan alam kehidupan.
Dengan ilmu akidah akan melahirkan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Tala yang menjanjikan kebahagian hidup di dunia dan juga diakhirat kelak. Segala keperluan hidup manusia di alam dunia ini semestinya atas keredhaan Allah Subhanahu wa Tala. Tidak ada kekuasaan manusia sendiri dalam menangani pembangunan kehidupan tanpa keredhaan Allah Subhanahu wa Tala.
Dalam arena pekerjaan, Datuk mempunyai pengalaman yang luas dalam bidang Pendidikan. Pada tahun 1967, beliau bertugas sebagai Penolong Kanan dan bersama Pengetua telah membuka dan membangunkan Sekolah baru iaitu SMK. Putatan. Seterusnya menjawat jawatan Pengetua di SMK Bingkor(1971-1973), pensyarah Lingustik di Maktab Perguruan Ilmu Khas, Ceras, Kuala Lumpur (1974) dan pensyarah di Maktab Perguruan Kent, Tuaran, sebagai Ketua  Jabatan Bahasa Inggeris (1975 – 1977).
Antara tahun 1977 hingga 1978, bertugas sebagai Penolong Setiausaha Peperiksaan Jabatan Pendidikan Sabah. Kecemerlangan dalam tugas, membolehkan Datuk dilantik sebagai Pegawai Pendidikan Bahagian Pantai Barat Selatan Kota Kinabalu (1980 – 1982) dan Keningau (1982 – 1989).
Berikutnya beliau telah dilantik  oleh Pusat Perkembangan Kurikulum (PPK), Kementerian Pendidikan Malaysia sebagai Penolong Pengarah Pendidikan Kanan, untuk menyelaras Kurikulum Baru Sekolah Rendah (KBSR) di negeri Sabah (1989 – 1994).
Pengalaman Datuk yang luas dalam dunia pendidikan, telah menyebabkan Jabatan Pendidikan Sabah melantik Datuk menjadi  Pengetua SMK. Mat Salleh, Ranau (1995) dan pada tahun 1996, sebagai Pengetua di SMK Gunsanad, Keningau di mana Datuk bersara wajib pada Disimber 1998.
Buku “Kehidupan Dalam Tiga Dimensi” dihasilkan oleh Datuk berdasarkan pengalam annya sendiri menganut tiga kepercayaan. Datuk Haji Mohd Farid Linggi, dilahirkan dalam kelompok masyarakat yang mengamalkan ‘Paganisme’, iaitu mempercayai kejadian alam sekeliling dan roh serta adat resam yang diamalkan oleh nenek moyang.
Seterusnya  di peringkat menengah, dengan nama asalnya Alfred Linggi, Datuk menganut agama  Kristian dan aktif sebagai ahli Vergin of Mary. Antara tahun 1967 hingga  1974 Datuk mula mengenali dunia Islam. Selama tujuh tahun, Datuk  mula berdampingan dengan Islam, dengan cara mengkaji dan menerokai dunia Islam, dalam erti kata yang sebenarnya.
Pencarian Datuk mengenai kebenaran dalam hidup, akhirnya mendapat hidayah daripada Allah dan telah memeluk Islam pada tahun 1974 sebagai Pegangan Hidup hingga sekarang. “Theory Without Practical, is nothing”, tetapi Datuk Haji Mohd Farid Linggi telah menghasilkan buku “Kehidupan Dalam Tiga Dimesi, berdasarkan apa yang dialami dan dirasainya iaitu “niat, Lafaz, dan perbuatan” dalam ketiga-tiga kepercayaan ini.
               Datuk merumuskan  segala pengalamannya dalam tiga kepercayaan tersebut sebagai suatu perbandingan yang sangat menarik untuk dibaca dan diketahui oleh pembaca. Setelah menganut Islam, Datuk mula berfikir dan mengkaji mengenai kemanusiaan dan kerohanian di mana menurutnya : “berfikir adalah suatu alat untuk  mengenali diri sendiri”, seperti mana yang telah dilakukan oleh Hamzah Fansuri, Abdul Rauf Al-Singkel dan lain-lain ulama’ di zaman Acheh yang “mengenali Tuhan setelah terlebih dahulu mengenali diri sendiri.”
               Buku bertajuk “Dimensi Iman Lambang Kunggulan Islam”, merupakan satu nukilan pemikiran Datuk yang bersifat perpaduan ummah secara menyeluruh berlandaskan ilmu tauhid. Keunggulan Islam berpaksi kepada budaya ukhuwah kemanusiaan yang dibalut dengan perasaan kasih sayang antara sesama serta ditunjangi dengan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Tala.
               Lahirnya buku ini adalah atas permintaan Ustaz Abu Hurairah yang berkhidmat dengan  USIA, meminta Datuk untuk menulis mengenai keunggulan Islam sebagai agama manusia. Beliau (ustaz) sering berdepan dengan masyarakat penganut Krestian dalam usahanya mengetengahkan konsep Islam sebagai cara hidup, yang mereka lantang mengatakan bahawa agama Islam tidak unggul seperti agama Krestian!
Walaubagaimana pun, Ustaz Abu Hurairah mengatakan bahawa jika kita mempunyai   sesuatu kepercayaan (agama) itu unggul maka boktikan dalam penulisan sebuah buku dengan memperincikan segala hujah mengenai keunggulannya. Tidak ada makna hanya dibawa dalam perbahasan lisan semata tanpa memboktikan kesaihannya dalam melahirkan sebuah buku.
Buku ini telah dibaca oleh Ustaz Jumain Abdu Ghani, pegawai bahagian sebaran Am di Jabatan Hal Ehwal Agama Islam  Negeri Sabah (JHEAINS) dan beliau telah memberi pandangan berikut sebagai kata-kata aluan.
“Sesungguhnya buku “Dimensi Iman Lambang Keunggulan Islam” telah memaparkan betapa luasnya pengertian Iman dan Islam itu sendiri. Akar umbi iman diperlihatkan dalam setiap dimensi umpamanya dari sudut kegiatan, muamalah, sudut ciptaan Allah Subhanahu wa Tala, sudut rohani dan jasmani serta sudut alam.
               Islam juga diperkatakan dengan cukup melebar dengan menekankan keunggulan dalam pelbagai sudut. Suatu yang menarik apabila beliau menjelaskan keunggulan ISLAM itu sebagai satu Agama Benar (Deen Al-haq)  yang meliputi Islam sebagai agama Allah Subhanahu wa Tala dan tanggungjawab setiap individu terhadap agama tersebut.
               Saya pernah membaca karya beliau sebelum ini, antaranya buku “Tiga Deminsi Kehidupan” dan “Warna-Warni Kehidupan”. Berbanding dengan karya ini, karya beliau sebelumnya banyak menceritakan berkenaan pengalaman realiti beliau singga sebentar dalam suasana tanpa agama dan agama Kristian sebelum menerima hidayah Allah Subhanahu wa Tala untuk menerima Islam.
               Ketajaman pemikiran beliau banyak dipaparkan di dada akhbar Sabah Times dalam ruang Bicara Minda dan mendapat maklum balas yang positif dari pembaca. Saya berpendapat buku ini merupakan perjalanan pemikiran beliau setelah banyak mengkaji dan membuat penelitian mengenai betapa luasnya pengertian Iman serta Islam dan seterusnya mengecapi keindahan beragama.
               Tahniah kepada Tuan Haji Farid Linggi di atas kesungguhan menghasilkan karya yang kreatif dan kritis demi memertabatkan dunia penulisan”. (Jumain Abdul Ghani).
               Usaha-usaha selain dari berdakwa melalui penulisan, Datuk juga telah memimpin Masjid Nur Hidayah pekan Bingkor semasa Datuk dalam perkhidmatannya dan kini sebagai penasihat jawatan kuasa masjid berkenaan.
Datuk juga telah mendirikan sebuah sekolah agama rakyat (SAR) di pekan Bingkor sejak tahun 2004 untuk anak-anak Islam di mukim Bingkor terutama sekali keluarga Mualaf. Disamping memimpin sekolah berkenaan Datuk mengambil kesempatan pada setiap hari Sabtu untuk bersama para jemaah masjid At-Taqwa Keningau menghidangkan ceramah agama yang memfokoskan mengenai perpaduan serta kefahaman Islam sebagai cara hidup.
Datuk merakamkan setinggi-tinggi kesyukuran kepada Allah Subhanahu wa Tala dan terima kasih yang tidak terhingga kepada kerajaan Negeri Sabah kerana memilih Datuk sebagai penerima Anugerah Tokoh Maal Hijrah tahun 1436/2014.
Anugerah ini merupakan satu tanggungjawab yang tinggi  untuk melaksanakan amanah Allah demi memperkasakan dakwah Islamiah di Sabah khasnya dan di seluruh negara amnya. InsyAllah dengan izin Allah Suhanahu wa Talah yang memurnikan kesihatan hamba-Nya, Datuk akan meneruskan usaha yang mulia dan murni ini dan sentiasa menjadikannya sebagai  tetamu khas setiap hari dalam kehidupan Datuk hingga ke akhir hayatnya. Amin!  

Saturday, November 1, 2014

AKAL DAN IMAN MURNIKAN IBADAH

 (Disiarkan pada 01. 11. 2014)
Akal dan iman adalah dua fakulti dalam diri seorang insan. Dimensi akal terbahagi kepada dua fakulti yang berbeza. Dari aspek fisikal merujuk organ otak, manakala dari aspek kerohanian akal merujuk kebolehan manusia mengenai kefahaman Islam sebagai cara hidup atau addin. Dalam erti kata lain fungsi akal berlegar dalam sinario keduniaan.
Iman pula merupakan quality hidup (jiwa) seseorang insan sebagai hamba Allah Subhanahu wa Tala. Iman kiblatnya hanya kepada Allah sebagai Zat yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana mengatur hidup manusia untuk menuju ke alam berikutnya iaitu alam akhirat. Fungsi iman hanya berlegar dalam fenomen kehidupan akhirat yang bakal ditempuhi oleh sekalian manusia setelah selesai agenda kehidupan dunia.
Maka itu kehidupan seorang manusia di alam dunia dengan kemurnian akal memempinnya  berkait rapat dengan kehadiran iman pada dirinya sebagai intiti mendekati Allah Subhanau wa Tala demi keselamatan hidup di akhirat yang penuh dengan kebahagian, kemewahan, keselesahan yang bersifat kekal di syurga Allah Subhanahu wa Tala.
Walaubagaimana pun kegagalan akal berkawan dengan iman atau kehidupan tanpa iman kepada Allah Subhanahu wa Tala, manusia akan menempuhi kehidupan akhirat yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Tala  dalam kesangsaraan hidup di neraka jahanam. Dalam erti kata lain jika akhirat diutamakan dalam hidup maka dengan sendirinya alam dunia akan terbela tetapi jika kehidupan dunia yang diutamakan semata-mata maka kehidupan akhirat tidak menempatkan manusai di syurga Allah.
Analogi hidup di dunia memberi gambaran bahawa jika kita tanam padi tanpa diundang rumput tumbuh sama, tetapi jika kita tanam rumput jangan mimpi padi ikut sama tumbuh! Padi ditamsilkan sebagai kehidupan akhirat (syurga) manakala rumput dimaksudkan disini ialah kehidupan dunia.
Kehidupan dunia sentiasa Allah menguji kita kerana melalui ujian manusia dapat mengenali dirinya sebagai hamba Allah. Allah menguji kita kerana Allah cinta kita maka itu wajar diimbali dengan kecintaan kita kepada Allah Suhanahu wa Tala dengan melaksanakan ibadat kerana Allah.
Allah berfirman dalam al-Quran surah Az-Zariyat ayat (51) 56 yang bermaksud (terjemahan): “Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan supaya  mereka menyembah Aku”......manusia diwujudkan Allah Subahanahu wa Tala dengan satu tujuan iaitu beribadah  kepada-Nya.
Orang yang beriman semestinya mempunyai akal kerana akallah yang memimpin manusia di landasan yang diredhai Allah Subhanahu wa Tala. Tetapi orang yang berakal tidak semestinya beriman kerana bangsa Quarisy masyarakatnya rata-rata berakal tetapi menyalah gunakan fitrah akal. Akal apabila disalahguna maka ia menjadi akal kehaiwanan yang sentiasa membelakangi kemurnian hidup beragama.
Kehadiran akal pada manusia menempatkannya sebagai makhluk Allah yang tertinggi dalam semua makhluk ciptaan Allah Subahanhu wa Tala. Maka itu Allah amanahkan tanggungjawab kepada manusia sebagai khalifahNya di alam dunia ini. Manusia sebagai pemakmur alam kehidupan dengan menggunakan fitrah akal disulami dengan iman serta ilmu untuk menyusun strategi perlaksanaan pembangunan sejagat.
Akal, iman dan ilmu menjadi prasyarat dalam membina dan memurnikan pemba- ngunan tamadun. Iman boleh membantu akal dalam landasan yang betul dan ilmu menjadi nadi kekuatan kepada akal di bawah kelolaan iman dalam membetulkan persepsi ibadah yang di redhai Allah Subhanahu wa Tala.
Akal dapat membina kemurnian ibadah dengan bantuan iman dalam diri seseorang
dengan catatan bahawa ilmu sentiasa sesuai dengan keadaan ibadah. Ilmu tauhid serta ilmu yang bersangkutan dengan pembangunan kerohanian wajar sentiasa diperolehi oleh setiap
insan  sebagai bekalan menempuhi kehidupan akhirat.
               Akal adalah budi fikiran yang sihat bagi menempatkan manusia sebagai makhluk yang mempunyai kewibawaan dalam menangani pembangunan hidup. Jika budi fikiran itu diguna pakai dengan sajian iman kepada Allah Subhanahu wa Tala, maka segala penyelesaian kepada permasalahan kehidupan dapat ditangani dengan sempurna dan saksama mengikut lunas-lunas ketamadunan manusia.
               Hidup susah merupakan ujian Allah Subhanahu wa Tala dan ia menjadi garam dalam hidup seorang insan. Keadaan hidup demikian dilahirkan oleh  datuk nenek  manusia Nabi Adam alaihi salam yang gagal memelihara kesenangan yang diberi oleh Allah Subhanahu wa Tala kepada makhluk manusia sejak mulanya wujud di syurga Allah. Oleh yang demikian hidup ini harus disajikan dengan kesusahan barulah  kita merasakan kelezatan bahawasanya hidup itu adalah nikmat.
               Kesyukuran manusia kepada kehadiran akal dalam dirinya untuk menangani teka-teki tamadun kehidupan harus digunapakai dengan sajian iman sebaik mungkin demi memperbaiki hidup dari yang susah kepada yang lebih dominan untuk kemurnian hidup.
               Akal atau budi fikiran yang sihat sentiasa melihat sesuatu masalah itu dengan cahaya kecemerlangan disebalik kejadiannya yang disedikan oleh Allah Subhanahu wa Tala sebagai jalan untuk menuju ketamadunan hidup manusia. Maka itu orang mengatakan bahawa masalah itu merupakan peluang yang tersirat.
               Fenomena yang tersirat di sebalik belakunya ujian Allah Subhanahu wa Tala dalam menangani pembangunan, lahirnya hikmah yang membolehkan manusia memahami hidup ini sebagai ibadah kerana Allah.
               Hidupnya seorang  rasul sentiasa dihiasai dengan masalah demi masalah. Semakin banyak ujuan Allah dalam usahanya mentarbiahkan cara hidup kepada umatnya, semakin teguh pendiriannya untuk menentang rintangan hidup. Dalam sejarah hidup manusia, tidak ada nabi dan rasul yang manjakan oleh Allah.
               Baginda Rasul  Nabi Muhammad Shallallahu wa sallam meniti sejarah kehidupan yang amat getir sekali. Baginda menempuhi hidup yang susah sejak dalam rahim ibu apabila ayahnya meninggal dunia semasa usianya enam bulan. Setelah lahir ke dunai ditimang derita demi derita sehingga belaiu terpaksa berkerja mengembalakan kambing kepunyaan  masyarakat Quraisy.
               Meningkat usia enam tahun dimana seorang anak memerlukan belaian kasih sayang dari seorang ibu, tiba-tiba ibunya meninggal pula. Maka Baginda terpaksa hidup di bawa asuhan seorang nenek yang sudah lanjut usianya. Walaupun beliau menempuhi hidup dalam kemiskinan tetapi iman serta akalnya sentiasa memimpin beliau di jalan yang benar  sehingga baginda diberi satu mukzizat iaitu wahyu dari Allah yang diterimanya dari langit dalam perantaraan Malaikat Jibril.
               Turunnya dokumen wahyu yang diterima Baginda dari Allah Subhanahu wa Tala selama 23 tahun maka lengkaplah falsafah pembangunan manusia dalam landasan yang diredhai Allah Suhnahau wa Tala.
               Baginda tidak pernah menuntut ilmu di bangku sekolah disebabakan kemiskinannya, jauh sekali mendapat didikan dari seorang ayah tetapi baginda dapat membina hidup dengan ilmu tauhid yang diterimanya dari langit. Akal fikiran Baginda serta kasih sayang terhadap umatnya amat mulia sekali sehingga Allah sendiri memuji  Baginda.
               Dalam perjuangan Baginda menentang masyarakat Quraisy yang memusuhai Islam, nyawa baginda  sudah di hujung pedang tetapi giliran musuh Islam itu terlalai dan peluang memihak kepada Baginda untuk membelas dendam, Baginda  masih boleh memaafkannya. Apabila ditanya oleh sahabatnya mengapa Rasul tidak membalasnya Baginda berkata: “Saya diutuskan ke dunia untuk perbaiki akhlak manusia dan bukan memusnahkan mereka.”
               Jika dia dianiaya oleh musuhnya baginda berdoa semoga orang itu  dapat melihat kebenaran dalam perbuatannya itu. Dalam beberapa perkara baginda berjaya dalam usahanya untuk membentuk manusia yang mempunyai akal fikiran yang sentiasa memikirkan cahaya kebenaran itu memihak dirinya.
               Manusia memperolehi ilmu pengetahuan melalui proses pendidikan yang dilaksanakan oleh seorang yang bertauliah yang dipanggil “guru”. Tetapi  Baginda Nabi mendapat Ilmu pengetahuan dari langit yang gurunya ialah Allah Subhanahu wa Tala sendiri.
               Maka itu akal yang sempurna ada pada baginda Nabi yang wajar manusia mencontohi nya. Maka dengan itu Islam menyarankan kepada umat manusia bahawa  jika menghendaki kebahagian di dunia dan juga di akhirat hendaklah mempunyai ilmu pengetahuan yang disajikan dengan akal fikiran serta iman kepada Allah  Subhanahu wa Tala.       
               Akal adalah kekuatan otak untuk menimbang atau memikirkan sesuatu. Akal sentiasa bertemankan daya fikir manusia. Oleh yang demikian akal fikiran merupakan kekuatan mental individu untuk memahami dan mentafsirkan sesuatu fenomena kehidupan.
               Manusia wajar menggunakan akal fikiran untuk mendekatkan diri kepada kefahaman sesuatu permasalahan. Akal itu menemui jalan keluar manakala fikiran adalah kefahaman kepada masalah tertentu.
               Al-Qur’an diturunkan untuk memandu akal manusia ke arah kesempurnaan jiwa, maka seseorang itu adalah manusia, dari sudut jiwanya, dia akan dapat mencapai tahap kemanusiaan yang sangat tinggi.   
“Dinn” akal yang dimaksudkan oleh al-Qur’an sebagai pembawa hidayah, memberi maksud sebagai penerang hati untuk melihat sesuatu yang berlandaskan kepada akal manusia dengan catatan bahawa Allah Subhanahu wa Tala redha kepada akhlak manusia yang memandunya untuk menerima petunjuk berkenaan.
Agama datang sebagai pembawa hidayah kepada akal dalam beberapa masalah seperti persoalan-persoalan akhlak yang berkaitan dengan kebaikan dan kelebihan (fadhilat) yang perlu kepada seorang untuk menjadi seorang muslim yang salih.
Al-Qur’an diturunkan dan akal mampu memahami ayat-ayat yang jelas dan terang (muhkam) dan akal tidak  bertelagah pada ayat-ayat yang ada kesamaran (mustasyabih). Firman Allah  dalam surah Ali Imran: 7 yang bermaksud:
“Sebahagian besar daripada Al-Qur’an itu ialah ayat-ayat; muhkamat (yang tetap tegas dan  nyata maknanya serta jelas maksudnya). Ayat-ayat mukhmat itu ialah ibu atau asas isi Al-Qur’an. Dan yang lain lagi adalah ayat-ayat: “Mutasyabihat”(yang samar-samar, tidak terang maksudnya. Oleh sebab itu timbullah faham yang berlalinan menurut kandungan hati masing-masing.”
Menurut Prof.Dr. Al-Qardhawi dalam bukunya “Wawasan Islam antara keaslian dan Keodenan” akal manusia adalah merupakan ‘forum dan media’ komunikasi bagi syariat Islam yang bertugas untuk mempelajari dan memahami isi kandungan ajaran al-Quranul karim dan sunnah Nabi Muhammad shallallu alaih wasalam.
Akal berkewajipan untuk melakukan ijtihad (pengkajian dan penyelidikan) dalam memahami dan menggali hukum hakam syarak terutama sekali dalam masalah yang tidak dijelaskan secara  terang dalam nas-nas  syariat.
Bahkan wahyun(syariat) telah memberikan kepada akal ‘medan ijtihad’ yang sangat luas untuk diterokai khasnya berkenaan dengan masalah kehidupan dan rahsia  alam semesta untuk menggali dan mencari manfaatnya bagi kebaikan hidup di dunia dan kejayaan di akhirat.

Maka itu muliakan hidup mu dengan kehadiran akal dan iman untuk memimpin diri di landasan yang diredhai Allah Subhanahu wa Tala. Kebahagian dunia dan kebahagian akhirat akan sentiasa mewarnai hidup anda sebagai manusia yang hidup bertamadun.