Friday, November 3, 2017

SYUKUR SAYA ISLAM

 (Disiarkan pada 20.10. 2017)
Dalam hidup setiap manusia menginginkan sesuatu yang melegakan perasaan dan menggamit rasa kesyukuran kepada zat yang Maha Penyayang dan Maha mengasihani itu. Tiada yang lebih mengembirakan dalam hidup ini selain dari mendapat ilmu yang membawa kita ke deminsi  memahamai apa dia itu hidup sebenar. Bermuara dari fenomena memahami diri sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan sebagai hamba-Nya, untuk beribadat dan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya, kita harus mengutama kan amanah yang dipertanggungjawabkan sebagai khalifah Allah s.w.t. demi memakmur alam kehidupan di alam dunia.
Manusia diwujudkan Allah di alam dunia tujuan  menjadi khalifah-Nya. Memakmur kan alam kehidupan, satu amanah yang paling berat sehingga semua makhluk di alam kehidupan seperti bukit, gunung, bulan, tidak sanggup memegangnya. Walaubagaimana pun makhluk manusia  bersedia menerima amanah tersebut.
Oleh Allah dipersiapkan manusia berbagai fitrah seperti kemahiran berfikir serta akal yang memandunya dalam kehidupan. Ilmu dan kasih sayang wajar demi menangani kerenah-kerenah hidup yang akan menghalang dalam melaksanakan perintah Allah untuk memakmur kan alam kehidupan. Tiada yang mudah dalam hidup ini, tetapi dengan akal dan ilmu serta kemahiran berfikir, manusia dengan pertolongan Allah dapat melaksanakan amanah dengan mudah dan sempurna.
Maka itu hidup ini wajar sentiasa bertemankan rasa syukur kepada Allah atas kurniaan
Nya segala fitrah yang melengkapkan kehidupan manusia sebagai khalifah Allah. Hidup manusia di alam dunia tidak ada maknanya jika kita ketepikan rasa kesyukuran kepada nikmat dan rahmat Allah yang disediakan sebagai hidangan-Nya dalam pembangunan kehidupan.
               Hidup sebagai manusia wajar diwarnai oleh akidah Islam sebagai cara hidup. Dunia menjadi gelap jika jiwa kita diselubungi oleh kekafiraan terhadap fenomena alam kehidupan yang diciptakan Allah serta segala nikmat dan kesengsaraan hidup. Untuk memahami hidup wajar kita melalui berbagai kesulitan dan kesengsaraan.
               Dua fenomena hidup tersebut, akan mendewasakan pemikiran kita sebagai hamba Allah. Kelegaan hidup akan mendidik kita untuk mengenali fitrah syukur apabila kita telah  mengalami segala kemuskilan dalam pembangunan hidup. Bermuara dari hidup susah maka akan membawa kita ke dimensi mengenali Allah  sebagai Zat Maha sempurna.
               Orang-orang musrikin tentu sekali jauh dari memahami segala kenikmatan hidup maka itu sentiasa mengetepikan rasa syukur terhadap Allah dalam hidup. Setelah melafazkan dua khalimah sahadat, rasa syukur akan membangunkan falsafah kehidupannya dan mendidik jiwanya untuk mengucap “Syukur saya sudah Islam.”
               Kesyukuran hidup yang disempuranakan oleh akidah Islam telah meniti jalan yang diredahai Allah s.w.t. Disiplin pembangunan hidup telah dimudahkan oleh Allah kelak mema- hami diri sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya untuk memakmurkan alam kehidupan, menuju ke alam akhirat sebagai distinasi mutlak manusia. 
               Kesyukuran terhadap kesempurnaan hidup yang dibimbing oleh akidah Islam mempu- nyai hikmah kerana Allah telah membentuk manusia berdasarkan fatwa kesempurnaan hidup yang digarisbawahkan oleh Islam sebagai cara hidup.
               Pengertian Islam ialah nama yang dikenali bagi agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad (s.a.w.). Nama ini bukanlah hasil dari Ijtihad Baginda tetapi  dari Allah (s.w.t.) sepertimana yang difirman-Nya dalam surah al-Maidah, ayat 5:3 yang bermaksud: (Terjemahan).
               “Dan telah-Ku redhai Islam itu menjadi agama bagimu.” 
               Ahli-ahli bahasa, ahli tafsir dan para Orientalis melihat pengertian ‘Islam’ dari segi  bahasanya. Cara yang dibuat oleh mereka banyak menimbulkan perbincangan. Sebenarnya jika kita meneliti perkataan ‘salam’ dari segi bahasa kita dapati ia membawa pengertian berikut:
               1.  Terlepas dan bebas dari keburukan-keburukan atau kekurangan-kekurangan yang
                   lahir atau yang batin.
               2.   Aman dan damai.
               3.   Taat dan patuh.
Dari segi syarak pengertian Islam ialah mentauhidkan Allah, tunduk, patuh dan ikhlas kepada-Nya serta beriman dengan dasar-dasar agama yang diturunkan dari Allah.
               Al-Quran menganggap ‘Islam’ sebagai bertentangan dengan ‘Syrik’. Allah berfirman dalam surah al-An’am ayat 6:14 yang bermaksud: (Terjemahan)
               Katakanlah;”Adakah patut selain Allah akan saya jadikan pelindung? Sedang Allah itu pencipta langit dan bumi,Dia yang memberi makan dan bukan diberi makan.”Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan-Nya supaya menjadi orang yang pertama sekali menyerah kan dirinya (kepada Allah dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik. (menyekutukan Allah.”
               Muqatil mengatakan: “Tatkala Rasulullah (s.a.w.) diseruh oleh orang-orang musrikin supaya mengikuti agama nenek moyang mereka, maka Allah turunkan ayat ini, yang maksud nya “Katakanlah Muhammad kepada mereka: Adakah patut selain Allah akan saya jadikan Tuhan yang disembah dan akan saya jadikan pelindung tempat meminta pertolongan?” Perbuatan ini tentulah tidak layak. Tak mungkin selain Allah hendak dijadikan pelindung. Sedang Allah itu pecipta langit dan bumi.
               Terjadinya langit dan bumi ini, yang tercipta tanpa memakai model yang ditiru terlebih dahulu, adalah bukti tentang kemahiran sang penciptanya, iaitu Allah. Mengapakan hendak dicari juga pelindung selain Allah?
               Allah itu Maha Kaya. Dialah yang memberi rezeki makan minum kepada hamba-Nya, dan memberikan segala yang mereka hajati, sedang Allah tiada berhajat kepada sesuatu apapun. Maka Tuhan yang demikian sifatnya sahajalah yang layak dijadikan pelindung tempat meminta pertolongan.
               Setelah alasan-alasan tadi diberikan yang menetapkan wajipnya Allah itu dipertuhan- bukan yang lain – katakanlah pula ya Muhammad kepada orang-orang Musyrikin itu: “Sesung guhnya aku diperintahkan oleh Allah supaya menjadi orang yang pertama sekali dari golo- ngan umat Islam kerana bersedia menyerahkan diriku kepada Allah untuk mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala tegahan-Nya. Dan janganlah kamu memilih pelindung orang-orang yang menyekutukan Allah disebabkan memilih pelindung kepada yang lain.
               Demikian juga al-Quran menganggap ‘Islam’ sebagai bertentangan dengan ‘kufur’. Firman Allah (s.w.t.) surah Ali Imran ayat 3:80 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Dan (tidak wajar pula baginya) meyuruh mu menjadi malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran pada waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”
               Al-Quran juga mengatakan ‘Islam’ sebagai bermakna “Ikhlas” kepada Allah. Firman Allah dalam surah An-Nisa’ ayat 4:125 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan.”
               Jadi ayat ini adalah memuji orang-orang yang menyatahkan diri semata-mata kepada Allah.
               Al-Quran seterusnya menyatakan ‘Islam’ sebagai bermakna “tunduk dan patuh kepada Allah”, seperti firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 39:53 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya.”
Lafaz atau sebutan Islam disebut oleh Al-Quran dengan makna ini kadang-kadang dibuat
kepada orang-orang mukmin dan kadang-kadang kepada orang-orang kafir, sebab orang-orang kafir itu juga tunduk kepada hukum kejadian mereka. Sama ada mereka rela atau tidak maka undang-undang alam tetap berlaku ke atas mereka. Dengan sebab itu terdapat di dalam al-Quran firman Allah dalam surah Ali-Imran ayat 3:83 yang bermaksud: (Terjemahan))
               “Apakah mereka mencari agama lain dari agama Allah, pada hal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka mahaupun terpaksa dan kepada Allah mereka dikembalikan”.
               Erti Islam di sini ialah tunduk kepada kuasa Allah dan tunduk kepada undang-undang alam-Nya. Pada mereka terdapat dua ketaatan iaitu ketaatan tabie dan ketaatan kehendak. Dengan sebab itulah kalimah ‘muslim’ disebut/digelar kepada setiap orang yang tunduk kepada Allah dan mentaati nabi-nabi yang diutuskan.
               Nabi Nuh seperti yang disebutkan dalam al-Quran telah berkata dalam surah Yunus ayat 10:72 yang bermaksud (Terjemahan)
               “Dan aku disuruh supaya termasuk dalam golongan orang-orang yang berserah diri (muslim).
               Allah menyebut tentang Nabi Ibrahim seperti dalam surah Al-Baqarah ayat 2:130-131 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang  solih. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya ‘tunduk patuhlah!’. Ibrahim berkata: Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.
               Nabi Yusuf berdoa kepada Allah seperti dalam surah Yusuf ayat 12:101 yang bermaksud: (Terjemaan)
               “Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan
Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang Solih”.
               Demikian juga NabiMusa berkata kepada kaumnya seperti dalam surah Yunus ayat 10:84 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertaqwalah kepada-Nya sahaja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri (Muslim)”.
               Tentang Nabi Isa al-Quran mengatakan seperti dalam surah Ali Imran ayat 3:52 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran dari mereka (bani Israel) berkatlah dia: Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah? Para Hawariyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahawa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menyerah diri”.
               Kemudian Allah megutuskan Rasul-Nya Muhammad (s.a.w.) untuk menyempurnakan syariat nabi-nabi yang telah lalu. Allah mengatakan pepada Nabi Muhammad: dalam surah An-Nisa’ ayat 4:163-165 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberi wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yaacob dan anak cucunya, Isa, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami datangkan Zabur kepada Daud, Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan secara langsung, (mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutuskan rasul-rasu itu. Dan adalah Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.
               Ayat ini merupakan jawapan kepada orang-orang Ahli Kitab yang meminta kepada Nabi Muhammad (s.a.w.) supaya mereka dituruni kitab dari langit dengan sekaligus. Allah menjawab permintaan mereka itu dengan firman-Nya yang berkamsud: (Terjemahan)
                    Sesungguhnya kamu telah mewahyukan kepada engkau ya Muhammad sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.
                    Maksudnya: Sesungguhnya kamu wahai orang-orang Yahudi telah pun mengakui kerasulan Nabi Nuh dan nabi-nabi lain yang telah diutus oleh Allah selepasnya (mereka itu
disebutkan dalam ayat ini berjumlah 12 orang). Allah telah mewahyulan kepada para nabi tersebut, sedang kamu ada mengakui yang demikian itu. Tidak seorang pun dari  mereka yang diturunkan kitab dari langit dengan sekaligus.
Kalau para nabi yang lain tidak diturun kitab dengan sekaligus, hal itu tidak menjadi kecacatan bagi mereka, maka tidaklah ada kecacatannya akan kenabian Muhammad (s.a.w.)  yang diturunkan kitab al-Quran dengan beransur, bahkan nabi-nabi yang lain jua diturunkan kitab beransur-ansur.
Kesyukuran sebagai umat Islam berdasarkan Islam sebagai ilmu pembangunan sesuai dengan sifat Allah s.w.t. yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui, maka sudah sewajarnya jika al-Quran itu penuh dengan perinsip atau asas ilmu pengetahuan.
Al-Quran menyarankan kepada manusia agar menuntut ilmu dan memperdalamkan pengetahuan dengan menggunakan akal yang sihat dan pemikiran yang yang logik. Firman Allah suah Al-Mujadalah ayat 58:11. Al-Quran sendiri telah manyanjung orang yang mempunai ilmu dan menjamin akan diangkat darjatnya.

Friday, October 6, 2017

MENEMPUHI UJIAN ALLAH TANDA SAYANG KEPADANYA

 (Disiarkan pada 6. 10. 2017)
Hidup ini merupakan perjuangan, dan perjuangan itu adalah pengorbanan maka pegorbanan itu tanda kasih sayang kepada diri kerana Allah SWT. Allah sayangkan hambanya maka dibekalkan berbagai fitrah demi menyempurnakan pembangunan kehidupannya. Agen- da utama dalam hidup ialah  bersyukur kepada Allah kerana membekalkan berbagai ujian sebagai mengetuk jiwa kita demi menyedarkan kita tentang amanah yang  Allah pertanggung jawabkan  demi kesempurnaan hidup sebagai khalifah-Nya.  
Menempuhi ujian Allah, kita kena melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan. Mengi- kut pendapat Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya bertajuk Fiqh Kutamaan-keutamaan seorang Muslim, megatakan bahawa antara kepentingan yang diutamakan oleh syariat adalah keutamaan mendahulukan ilmu berbanding dengan amalan. Ilmu menjadi petunjuk dan panduan. Sebuah hadits daripada Mua’dz menyebut, “Ilmu adalah imam dan amalan adalah makmum.”
Jestru, imam Al-Bukhari meletakkan satu bab dalam kitab Ilmu daripada kitab Shahih beliau yang bertajuk, Ilmu Sebelum Ucapan dan Perbuatan. Beliau menerangkan, ilmu adalah syarat dalam ketetapan sesuatu percakapan dan perbuatan. Ini kerana, sesuatu ucapan dan perbuatan tidak dianggap sebagai betul tanpa berlandaskan ilmu pengetahuan. Ilmu perlu didahukan sebelum percakapan dan perbuatan. Ini kerana, ilmu membetulkan niat serta perbuatan yang dilakukan oleh setiap individu.
Allah s.w.t. menyuruh setiap Rasul-Nya supaya berilmu serta mengesahkan-Nya terlebih dahulu. Suruhan itu disusuli dengan beristigfar. Itu adalah perbuatan yang perlu dilakukan bagai meraih keampunan Allah s.w.t.. Amalan serta ucapan Rasulullah s.a.w. adalah amalan dan ucapan yang mudah untuk difahami oleh umat. Allah s.w.t. menerangkan dalam surah Fatir, ayat 35:28 yang bermaksud: (Terjemahan)
“.......Sebenarnya yang takut kepada Allah daripada kalangan hamba-Nya hanya orang yang berilmu..”
Hanya dengan ilmu menjadikan seorang itu takut kepada Pencipta. Ilmu juga menghalang hamba-hamba-Nya daripada melakukan kemungkaran.
Rasulullah s.a.w. berkata, “Sesiapa yang Allah menginginkan kebaikan untuk dirinya, Allah memberi kefahaman agama kepadanya.”
Ini kerana, apabila seseorang memahami perbuatan yang dilakukan pasti mereka melakukan perbuatan itu dengan baik.
Kita perlu mendahulukan kegiatan menuntut ilmu sebelum sesuatu amalan dilakukan. Ini berdasarkan surah terawal yang diturunkan dalam Al-Quran, iaitu iqra bermaksud bacalah. Membaca adalah kunci ilmu pengetahuan. Kemudian, Allah s.w.t. menurunkan perintah yang menuntut kepada amal perbuatan dalam surah Al-Mudatthir (orang yang berselimut) ayat 74:1 hingga ayat 4 yang bermaksud: (Terjemaan)
“Wahai orang orang yang berselimut! Bangunlah serta berilah peringatan dan amaran (kepada umat manusia). Dan Tuhanmu, maka ucaplah dan ingatlah kebesaran-Nya! Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu bersih.”
Setiap perkara yang kita lakukan memerlukan ilmu. Ilmu perlu diutamakan. Ini kerana, hanya dengan ilmu kita dapat membezakan antara perkara yang betul dan salah dalam sesuatu kepercayaan. Ilmu juga mampu membetulkan setiap kesilapan dalam percakapan, menjelas kan segala salah faham dalam urusan ibadat seharian, dan membetulkan kesalahan yang berlaku dalam pergaulan seharian. Dengan ilmu juga kita dapat membezakan perkara halal dan haram yang berlaku dalam urusan pelaburan, kebaikan dan keburukan daripada segi akhlak, perkara yang diterima dan ditolak dalam urusan timbangan, serta ketepatan dalam ucapan dan perbuatan.
Umar bin Abdul Aziz berkata, “Sesiapa yang melakukan sesuatu perbuatan tanpa
berlandaskan ilmu pengetahuan amalannya itu ternyata lebih memberi keburukan bebanding dengan kebaikan.”
Perkara sebegini jelas berlaku terhadap sebahagian daripada golongan Muslim yang bertakwa tinggi, ikhlas, dan bersemangat. Tetapi, mereka kekurangan ilmu serta pemahaman dalam memahami tujuan syariat serta hakikat sebenar  agama Islam. 
Itu yang berlaku kepada puak Khawarij. Mereka  membunuh Saidina Ali bin Abi Talib r.a. kerana kelebihan serta kedudukan beliau dalam menyumbang kepada kemenangan agama Islam. Saidina Ali bin Abi Talib r.a. juga adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah s.a.w. kerana keturunan beliau. Di samping itu, beliau adalah menantu dan insan kesayangan Baginda.
Ada juga yang membantah pembahagian sebahagian daripada harta oleh Rasulullah s.a.w. Dengan biadab mereka berkata kepada Baginda “Kamu perlu berlaku adil.”
Baginda berkata, “Siapakah yang akan berlaku adil jikalau kamu tidak berlaku adil?”
Dalam laporan hadith lain, mereka yang biadab itu berkata kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulullah, bertakwalah kepada Allah.”
Rasulullah s.a.w. menjawab, “Bukankah aku orang yang benar bertakwa kepada Allah?”          
Orang yang mengucapkan perkataan itu sama sekali tidak memahami politik Rasulullah s.a.w. dalam menundukkan hati orang-orang yang baru memeluk agama Islam. Mereka juga tidak memahami tindakan Rasulullah  s.a.w. itu mengandungi berbagai kemas- latan besar untuk umat. Allah s.w.t. mensyariatkan perkara itu dalam  Al-Quran dan memberi hak kepada Rasulullah s.a.w. bagi melakukan tindakan terhadap sedekah yang diberikan kepada kaum muslimin. Lalu, bagaimana pula halnya dengan harta rapasan perang?
               Sebahagian daripada sahabat memohon izin kepada Rasulullah s.a.w. bagi membunuh mereka yang bersikap biadab itu. Baginda melarang dan mengingatkan para sahabat tentang kemunculan kumpulan seperti itu. Baginda berkata, “Mereka memandang rendah terhadap solat kamu dengan solat mereka, ibadah puasa kamu dengan ibadah puasa mereka, dan amalan kamu dengan amalan mereka. Mereka membaca Al-Quran, tetapi lebih dari anak-anak tekak mereka. Mereka menyimpang daripada agama seperti terlepasnya anak panah dari busur.”
               Maksud ‘tidak lebih dari anak tekak mereka’ adalah hati mereka tidak memahami apa yang mereka baca. Akal mereka tidak disinari dengan ilmu. Apa yang mereka baca daripada Al-Quran itu tidak bermanfaat untuk diri mereka walaupun mereka sentiasa menunaikan solat dan berpuasa.
               Mereka juga disifat seperti itu kerana mereka membunuh umat Islam dan membiarkan golongan yang menyembah berhala.  
               Kesalahan yang berlaku itu bukan sahaja meresap dalam diri mereka dan niat mereka, bahkan ke dalam akal fikiran dan pemahaman mereka. Sebuah hadith menyifatkan golongan itu seperti. “Orang-orang muda yang memilih impian yang bodoh.”
               Imam Hasan Al-Basri mengingatkan umat supaya tidak berlebih-lebihan dalam melakukan ibadah dan amalan. Umat Islam perlu mengukuhkan diri dengan ilmu dan pema- haman yang mantap. Beliau menjelaskan, “Seorang yang beramal tanpa ilmu ibarat orang yang berjalan bukan di atas jalan yang betul. Seorang yang beramal tanpa ilmu hanya membawa lebih kerosakan berbanding dengan kebaikan. Tuntutilah ilmu selagi tidak memuderatkan pencarian ilmu. Kerana terdapat sebahagian  daripada  kaum yang melakukan ibadah, tetapi meninggalkan ilmu pengetahuan sehingga mereka keluar dengan pedang bagi membunuh umat Muhammad. Sekiranya mereka mencari ilmu pengetahuan, pasti mereka tidak melakukan apa yang mereka lakukan itu.
               Kita berada dalam zaman segala sesuatu diasaskan oleh ilmu pengetahuan. Kita tidak
menerima perkara yang tidak teratur dan membabi buta dalam hal-hal kehidupan.
               Maka apa sahaja amalan perlu disertakan dengan kajian sebelum amalan itu menjadi satu kebiasaan atau pun amalan. Kita mesti mempunyai keyakinan sebelum memulakan, peran cangan sebelum melaksanakan, dan menggunakan stastik sebelum mengambil apa jua tinda- kan.
Menempuhi ujian Allah perlu mempunyai ilmu pengetahuan kerana ujian Allah terse- but sememangnya mempunyai berbagai elemen yang perlu ditanganai. Ujian itu semestinya ada hikmah disebaliknya. Allah tidak wujudkan sesuatu tanpa tujuan. Tujuan tersebut mende wasakan pemikiran umat sebagai hamba Allah. Kita tidak membiarkan sesuatu perkara berlalu tanpa mengambil ukuran perkara yang menguntungkan dan merugikan dalam perja- lanan semalam dan hari ini.                                                                                                                                                                                                                                                
               Antara ukuran iman adalah  amalan yang sentiasa berterusan. Mereka yang melakukan amalan secara berterusan dan dengan penuh disiplin. Tahap dan peringkat sebegitu berbeza berbanding dengan amalan yang dilakukan sekali-sekali hanya pada waktu tertentu.
               Sebuah hadith shahih menyebut, Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah ama- lan yang berterusan walaupun sedikit.”
               Imam Al-Bukhari dan muslim merekodkan, daripada Masruq, beliau bertanya kepada saidatina Aisyah r.a., “Apakah amalan yang paling dicintai oleh Nabi?”
               Saidatina Aisyah r.a. menjawab, “Amalan yang berterusan.”
               Terdapat juga laporan daripada Saidatina Aisyah r.a., Nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya. Pada ketika itu, beliau sedang bersama seorang wanita. Nabi s.a.w. bertanya, “Siapakah wanita itu?”
               Saidatina Aisyah r.a. menjawab, “Polanah yang terkenal dengan solat(banyak melaku kan solat)”
               Nabi s.a.w. berkata, “Aduh, lakukan sahaja perkara yang kamu mampu lakukan. Demi Allah, Allah tidak bosan sehingga kamu sendiri berasa bosan.”
               Saidatina Aisyah r.a. berkata. “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang sentiasa dilakukan oleh pelakunya.”
               Perkataan ‘aduh’ dalam hadith menunjukkan perasaan Baginda mengenai beban berat dalam beribadah. Ia termasuk membebankan diri diluar batas kemampuan. Baginda mengi- nginkan amalan yang sedikit, tetapi dilakukan secara berterusan. Melakukan ketaatan secara berterusan sehingga banyak keberakatan diperolehi berbeza dengan amalam yang banyak, tetapi memberatkan. Amalan yang sedikit, tetapi berterusan pasti tumbuh mengalahkan amalan yang banyak dilakukan dalam satu waktu. Terdapat satu perbahasan terkenal, “Sesua- tu yang sedikit tetapi berterusan lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi terputus.”
               Itu yang menyebabkan Nabi s.a.w. mengingatkan orang terlalu berlebihan dan keras dalam menjalankan agama. Baginda bimbang orang itu berasa bosan dan kekuatan bertukar menjadi lemah. Ini kelemahan yang terdapat pada diri manusia. Dia pasti terputus di tengah jalan. Menjadi orang yang tidak berjalan dan tidak juga berhenti. Rasulullah s.a.w. berkata, “Hendaklah kamu melakukan amalan yang mampu kamu lakukan.  Ini kerana, Allah tidak bosan sehingga kamu sendiri menjadi bosan”
                    Keutamaan amalan menggunakan hati berbanding dengan amalan menggunakan ang- gota badan. Agama menganjurkan amalan dalaman yang dilakukan oleh hati manusia. Ama- lan itu lebih  diutamakan berbanding dengan amalan lahiriah yang dilakukan oleh anggota badan. Terdapat beberapa sebab yang menjelaskan perkara ini.
                    Pertama, Allah tidak menerima amalan lahiriah jikalau amalan itu tidak disertai dengan amalan dalaman. Amalan dalaman atau hati adalah dasar untuk amalan lahiriah diterima. Amalan dalaman adalah niat. Nabi s.a.w. mengatakan, setiap amal perbuatan itu harus disertai dengan niat.
                    Apa yang dimaksudkan dengan niat adalah niat yang terlepas daripada cinta diri dan dunia. Niat yang ikhlas kerana Allah s.w.t. Allah s.w.t. hanya menerima amalan  seorang yang ikhlas. Allah s.a.w. menerangkan dalam surah Al-Baiyyinah ayat 98:5 yang bermaksud: (Terjemahan)
                    “Pada hal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada –Nya lagi tetap teguh di atas tauhid.”
Rasulullah s.a.w. berkata. “Allah tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas dilaku kan hanya untuk-Nya.
Sebab yang kedua, hati adalah hakikat manusia, sekaligus menjadi sumber kebaikan dan keburukan mereka. Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim menyebut. Nabi s.a.w. berkata, “Ketahuilah dalam tubuh manusia trdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, mak seluruh tubuh menjadi baik. Apabila segumpal darah itu rosak, maka seluruh tunuh menjadi rosak. Segumpal dara itu adalah hati.”
Nabi s.a.w. menjelaskan, hati adalah titik pusat pandangan Allah s.w.t. Dia menilai perbuatan yang dilakukan oleh hati. Allah s.w.t. hanya melihat hati seorang. Apabila niat seseorang hamba itu bersih, maka Allah s.w.t. menerima amalannya. Apabila hatinya kotor ataupun niatnya tidak benar, maka Allah s.w.t. menolak amalannya. Baginda berkata, “Allah tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Allah melihat kepada hati kamu.”
Al-Quran menjelaskan, orang yang mempunyai hati yang bersih mendapat keselama- tan di akhirat dan balasan syurga. Hati yang
bersih daripada kemusyrikan, kemunafikan dan penyakit hati yang menghancurkan adalah orang yang hanya menggantukkan diri kepada

Allah s.w.t.

Friday, September 29, 2017

ALLAH SEMPURNAKAN MANUSIA IMAN DAN AKAL MENANGANI UJIAN

 (Disiarkan pada 29. 9. 2017)
Tuhan mempunyai Kekuasaan atau Qudrat, dan Tuhan mempunyai Kemauan atau Iradat. Kekuasaan Allah adalah kekuasaan yang sempurna, tidak terbantas dan tidak ada kekuasaan lain yang dapat menghalangi kekuasaan Tuhan. Alam ini serta segala isinya adalah Qudrat dan Iradat Allah SWT.
               Antara sifat-sifat Allah ialah Pengasih dan Penyayang. Sifat-sifat tersebut dibekalkan kepada semua makhluk ciptaan-Nya yang hidup. Sempurnanya sifat-sifat pengasih dan penya- yang yang ada pada setiap makhluk yang hidup maka jadilah pembiakannya di alam kehidu- pan. Kehadiran segala makhluk yang hidup di alam ini maka manusia sebagai khalifah Allah dapat mewujudkan pembangunan lewat kehadiran akal serta iman dalam diri setiap insan.
               Setiap insan atau muslimin dan muslimat, diwajibkan Islam menuntut ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahad. Menuntut ilmu itu merupakan sebahagian daripada ujian Allah SWT. kerana tanpa ilmu manusia  sukar melaksanakan amanah Allah sebagai khalifah-Nya dalam  kehidupan ini. Dengan ilmu akan merendahkan tahap kesukaran melaksanakan ujian Allah.
          Maka itu Allah sukakan hamba-Nya yang berilmu berbanding dengan orang yang tidak
punya ilmu. Ilmu mendewasa pemikian setiap hamba menangani pembangunan. Dengan ilmu manusia dapat melaksanakan teka-teka pembangunan kelak dapat menjawab segala kerenah-kerenah hidup yang sentiasa berlegar  dalam kehidupan kita sebagai khalifah Allah.
               Islam agama ilmu dan agama akal. Sebelum Islam membebankan pengikut-pengikut nya supaya menghasilkan maksud-maksud keduniaan, lebih dahulu mewajibkan kepada pengi kut-pengikutnya menjadi orang yang berilmu, berakal, sihat, faham, cemerlang fikirannya, elok penglihatannya, berpandangan luas, dapat mendalami segala urusan, sebelum mengerja- kannya.
               Adalah menakjubkan bahawa Islam sahaja dari agama-agama lain yang menggunakan akal dalam urusan agama, khususnya tentang membuat dalil kewujudan Pencipta. Ayat-ayat Al-Quran yang menyeru  keimanan kepada Allah adalah berpusatkan akal dan fitrah manusia. Islam menjadikan kedua-duanya sebagai jalan bagi orang-orang yang beriman untuk menegak kan keimanan mereka.
               Dengan kemampuan, kecerdasan dan keteguhan fitrah, manusia dapat meresapi ajaran Islam di dalam hatinya. Kerana hanya orang-orang yang picik pandangan sajalah yang jauh sekali akan boleh maju di dalam beragama. Allah berfirman surah Al ‘Alaq ayat 96:1-5 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Bacalah olehmu (Muhammad)  dengan nama Tuhanmu yang menjadikan alam, Dia yang menjadikan manusia dari segumpal darah (beku). Bacakah! Dan Tuhan engkau sangat pemurah.Yang mengajarkan(menulis) dengan kalam. Dia mengajar manusia perkara-perkara yang tiada diketahuinya.”
               Apabila kita perhatikan ayat yang paling pertama turunnya dari Al-Qur’an, nyatalah bahawa Tuhan memberikan perhatiannya kepada qalam dan tulis menulis, kepada ilmu dan mempelajarinya.
               Dengan memperhatikan ayat ini saja, cukuplah sudah untuk menegaskan bahawa Islam itu agama ilmu dan agama akal. Islam menghendaki supaya pemeluknya pandai memegang kalam dan otaknya penuh dengan aneka rupa ilmu.
               Allah menurunkan wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad saw, merupakan pemberitahuan dan seruan yang pertama dari Allah, yang juga menyatakan perang terhadap kebodohan dan menetapkan membaca serta belajar merupakan landaan pertama dalam pembangunan tiap-tiap orang besar. Yang memperkuat pendapat ini adalah Allah sendiri telah bersumpah dengan qalam dan meninggikan peranannya, sebagaimana firman Allah surah Al-Qalam, ayat 1 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.”
               Oleh kerana itu Allah memuliakan para ulama dan diberikanNya sifat yang cukup tinggi, yang oleh manusia sifat itu dijadikan tujuan berlomba dan dengan mati-matian mereka berebut mendapatkannya,
               Allah berfirman dalam surah al-Mujadilah ayat 58:11 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “....Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berimu pengetahun itu beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kejakan.”
               Allah akan meninggikan darjat orang-orang Mukmin lantaran mereka mematuhi perintah Allah dan perintah rasul-Nya. Begitu pula orang-orang yang berilmu pengetahuan. Sebenarnya orang yang berilmu pengetahuan itu tinggi benar darjatnya, bukan saja di kampung akhirat, malahan juga di atas dunia ini dalam pandangan manusia orang yang mempunyai pengetahuan dipandang tinggi. Dan biasanya pula pandangan itu ditumpukan kepada ijazah-ijazah. Siapa yan memiliki ijazah pengajian, maka mudahlah mendapat kedudukan dan senanglah mendapat pekerjaan.
               Tentu saja bukan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ibadat semata-mata, malahan juga semua ilmu pengetahuan yang berfaedah untuk kepentingan dunia dan juga akhirat. Sebab itu kaum Muslimin digesa supaya kuat menuntut ilmu, biar di bumi mana saja ilmu itu berada.
               “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
               Allah tahu bagaimana mestinya memberi pembalasan di atas apa yang kamu kerjakan. Sesiapa yang berbuat baik dibalas baik dan berbuat jahat dibalas jahat ataupun diampunkan-Nya.
               Beriman kepada Allah menenangkan Jiwa. Kesempurnaan hidup semestinya dengan iman. Yang paling asas dalam Islam adalah beriman kepada Allah SWT. Mempercayai adanya Allah SWT akan memperolehi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
               Kebahagian hidup di dunia dan akhirat inilah merupakan cita-cita semua umat manusia terutama umat Islam. Cita-cita tersebut dikategorikan sebagai ujian Allah S.W.T. kepada setiap insan. Jawapan itu nanti menjadi kebahagian hidup di dunia dan di akhirat. Maka itu yang dapat menjawab dan memberikan bimbingan ke arah itu hanyalah Islam.
               Beriman kepada Allah ialah meyakini dengan sesunggunya melalui proses kejiwaan, yang meliputi perasaan, fikiran, sekaligus sikap dan perbuatan untuk membuktikan iman tersebut. Kehadiran iman dalam diri setiap individu menggapai kesempurnaan hidup sebagai hamba Allah S.W.T.
               Beriman kepada Allah, akan menghasilkan jiwa yang tenang dan tenteram, sebab dalam meyakini adanya Allah kita akan memahami akan sifat-safat Allah SWT yang Maha Agung. Akhirnya jiwa kita akan merasa damai dan hidup dalam suasana yang dicita-citakan.
               Islam tidak sukar diterima oleh setiap manusia, kerana ianya sesuai dengan kemanu- siaan itu sendiri. Allah SWT dalam Al-Qur’an telah menjelaskan bahawa Dialah yang mengatur dan memiliki segala yang ada di alam ini. Firman Allah surah Al-Hasyr ayat 59:22 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
               Ayat di atas menjelaskan bahawa Allah-lah yang menguasai dan  memiliki seluruh Alam ini. Hanya Dia-lah Tuhan, tiada Tuhan selain Dia, kerana Dia mempunyai kekuasaan mutlak terhadap sesuatu. Semua yang ada di alam ini ciptaan-Nya, lemah dan kecil dihada pan-Nya. Maka akan resahlah jiwa seseorang jika mencari kebenaran itu selain Dia.
               Allah mengetahui segala yang ghaib dan segala yang nyata, semua yang dilakukan-
Nya sesuai dengan pengetahuan-Nya yang luas meliputi segala sesuatu. Dengan sifat-Nya itu
membuktikan bahawa segala sesuatu itu berada dalam pengawasan Allah SWT. Begitu juga
pimpinan Allah terhadap alam semesta, berlaku menurut sunatullah dan dalam menempuhi kehidupan, manusia harus menurut hukum sunatullah.
               Sistem kehidupan yang diatur oleh Allah SWT merupakan corak yang mutlak kebena- rannya. Bukan seperti sistem yang dibuat oleh manusia yang selalu saja berubah, kerana diang gap tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Jika manusia masih memegang pemimpin selain daripada Allah, maka akan bertambahlah keresahan jiwanya. Firman Allah SWT dalam surah At-Taubahlah ayat 9:32-33 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Mereka berkeinginan memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut atau ucapan-ucapan mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk Al-Qur’an dan agama yang benar untuk menenangkan-Nya atas segala agama  walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”
               Ketua-ketua orang-orang Yahudi dan Nasrani telah berusaha hendak menghapuskan agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. dengan cara mereka mendustakan Baginda.
               Setengah kaul menyebutkan bahawa yang dimaksudkan dengan an-nur (cahaya) dalam ayat ini ialah bukti yang menunjukan benarnya kenabian Muhammad s.a.w. yang berupa:
               1. Bukti yang berupa mukjizat, iaitu perkara-perkara luar biasa yang berlalu pada diri Nabi Muhammad (s.a.w.)
               2. Bukti yang berupa al-Qur’an iaitu kitab suci yang diturunkan oleh Allah ke atas Nabi Muhammad (s.a.w.) juga sebagai mukjizat yang akan kekal selama-lamanya dan menunjukkan atas  benarny kenabiannya.
               3. Bahawa agama yang diserukan oleh Nabi (S.A.W.) ialah agama Islam, iaitu agama yang di dalamnya tidak ada sebarang perintah kecuali supaya menyanjung Allah serta tunduk kepada apa yang diperintahkan dan yang ditengah-Nya, sama ada perkara seruhan supaya beribadat hanya kepada Allah semata-mata mahupun surhan supaya membersihkan diri dari beribadat kepada yang lainNya.
               Semua perkara ini sudah cukup terang dan jelas untuk membuktikan bahawa Muham mad (s.a.w.) adalah sebenarnaya seorang nabi dan pesuruh Allah. Barang siap yang cuba menghapuskan kebenaran itu atau mendustakannya pasti akan kecewa dan usahanya tetap gagal. 
               Demikianlah percubaan hendak menghapuskan agama Islam semenjak kebangkitan Nabi Mhammad (s.a.w.) yang telah dilakukan oleh orang-orang Ahli Kitab baik berupa peperangan mahupun berupa fitnah dan sercaan untuk merosakkan iktikad dan kepercayaan kaum Muslimin, maka tiap-tiap satu daripadanya adalah dimaksudkan untuk memadamkan cahaya Allah dari terus bersinar. Tetapi apakah tindakan Allah? Jawabnya ialah firman-Nya berbunyi:(Terjemahan)
               “Tetapi Allah enggan melainkan hendak menyempurnakan cahaya-Nya itu meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”
               Allah berjanji kepada Nabi Muhammad (s.a.w.) akan menambahkan kepadanya kemenangan demi kemenangan dalam perjuanannya menyiarkan agama Islam dari semasa ke semasa sehingga sempurnalah ketinggian kalimat-Nya dan keunggulan agama-Nya, yang seolahnya bukan purnama sedang mengambang penuh untuk menyinarkan cahayanya ke seluruh permukaan bumi, meskipun orang-orang kafir itu tidak menyukainya.
               Menangani ujian Allah menjadi keutamaan dalam menghadapi pembangunan kehidu pan kerana Allah bekalkan kita berbagai fitrah demi membantu kita menyempurnakan ibadah dan muamalah hidup. Kegagalan dan kejayaan dalam hidup harus difahami sebagai ujian Allah dan harus difahami bahawa kegagalan itu merupadakan kejayaan  yang tertunda; manakalah kejayaan itu pula merupakan ujian Allah kepada individu berkenaan agar jangan bersifat megah dan angkoh kelak menjemput  perasaan sombong kerana memikirkan kejayaan nya menempatkannya ketahap lebih tinggi berbanding orang lain.
               Ketahuilah bahawa segala usaha dan ikhtiar yang kita laksanakan demi menemukan penyelesaian satu-satu masalah wajar difahami sebagai tawakal. Tawakal ertinya menyerah kan diri kepada Allah SWT. Menurut Al-Ghazali tawakal itu ialah berpegang kepada Allah, tetap dalam hati menyerahkan diri kepada Allah, sedikitpun tidak berpaling daripada keyaki- nan itu.
                    Ada tiga tingkatan tawakal itu:
i.   Percaya kepada Allah sebagai wakilnya yang sebenarnya.
ii.  Percaya akan haknya terhadap Allah seperti kepercayaan seorang anak kepada ibunya.
iii. Menyerah diri dan segala pekerjaannya kepada Allah.
                    Semangat tawakal yang sebenar mengimplikasikan bahawa kita sedar dan yakin bahawa penentuan terakhir berada pada kekuasaan Allah. Sesungguhnya Allahlah yang menentukan kebaikan, kejayaan, dan  kebahagian hidup manusia. Bagaimanapun, Allah mene tapkan sesuatu ketentuan di atas diri manusia dengan adil. Allah berfirman surah Ali Imran ayat 3:18 yang bermaksud: (Terjemahan)
                    “Dan (ingatlah) sesungguhnyaAllah tdk sekali-kali berlaku zalim terhadap hamba-hamba-Nya.”

                    Ringkasnya, tawakal bukan merujuk perbutan menyerah untung nasib diri kepada Allah dengan tidak perlu berusaha dan berikhtiar. Sebaliknya, tawakal membabitkan dua proses yang saling berkait, iaitu menyerahkan nasib diri kepada Allah dari satu sudut, dan penggunaan seluruh tenaga fizikal, mental, dan rohani untuk mengubah keadaan diri sendiri dari sudut yang lain.

ALLAH SEMPURNAKAN MANUSIA IMAN DAN AKAL MENANGANI UJIAN

 (Disiarkan pada 29. 9. 2017)
Tuhan mempunyai Kekuasaan atau Qudrat, dan Tuhan mempunyai Kemauan atau Iradat. Kekuasaan Allah adalah kekuasaan yang sempurna, tidak terbantas dan tidak ada kekuasaan lain yang dapat menghalangi kekuasaan Tuhan. Alam ini serta segala isinya adalah Qudrat dan Iradat Allah SWT.
               Antara sifat-sifat Allah ialah Pengasih dan Penyayang. Sifat-sifat tersebut dibekalkan kepada semua makhluk ciptaan-Nya yang hidup. Sempurnanya sifat-sifat pengasih dan penya- yang yang ada pada setiap makhluk yang hidup maka jadilah pembiakannya di alam kehidu- pan. Kehadiran segala makhluk yang hidup di alam ini maka manusia sebagai khalifah Allah dapat mewujudkan pembangunan lewat kehadiran akal serta iman dalam diri setiap insan.
               Setiap insan atau muslimin dan muslimat, diwajibkan Islam menuntut ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahad. Menuntut ilmu itu merupakan sebahagian daripada ujian Allah SWT. kerana tanpa ilmu manusia  sukar melaksanakan amanah Allah sebagai khalifah-Nya dalam  kehidupan ini. Dengan ilmu akan merendahkan tahap kesukaran melaksanakan ujian Allah.
          Maka itu Allah sukakan hamba-Nya yang berilmu berbanding dengan orang yang tidak
punya ilmu. Ilmu mendewasa pemikian setiap hamba menangani pembangunan. Dengan ilmu manusia dapat melaksanakan teka-teka pembangunan kelak dapat menjawab segala kerenah-kerenah hidup yang sentiasa berlegar  dalam kehidupan kita sebagai khalifah Allah.
               Islam agama ilmu dan agama akal. Sebelum Islam membebankan pengikut-pengikut nya supaya menghasilkan maksud-maksud keduniaan, lebih dahulu mewajibkan kepada pengi kut-pengikutnya menjadi orang yang berilmu, berakal, sihat, faham, cemerlang fikirannya, elok penglihatannya, berpandangan luas, dapat mendalami segala urusan, sebelum mengerja- kannya.
               Adalah menakjubkan bahawa Islam sahaja dari agama-agama lain yang menggunakan akal dalam urusan agama, khususnya tentang membuat dalil kewujudan Pencipta. Ayat-ayat Al-Quran yang menyeru  keimanan kepada Allah adalah berpusatkan akal dan fitrah manusia. Islam menjadikan kedua-duanya sebagai jalan bagi orang-orang yang beriman untuk menegak kan keimanan mereka.
               Dengan kemampuan, kecerdasan dan keteguhan fitrah, manusia dapat meresapi ajaran Islam di dalam hatinya. Kerana hanya orang-orang yang picik pandangan sajalah yang jauh sekali akan boleh maju di dalam beragama. Allah berfirman surah Al ‘Alaq ayat 96:1-5 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Bacalah olehmu (Muhammad)  dengan nama Tuhanmu yang menjadikan alam, Dia yang menjadikan manusia dari segumpal darah (beku). Bacakah! Dan Tuhan engkau sangat pemurah.Yang mengajarkan(menulis) dengan kalam. Dia mengajar manusia perkara-perkara yang tiada diketahuinya.”
               Apabila kita perhatikan ayat yang paling pertama turunnya dari Al-Qur’an, nyatalah bahawa Tuhan memberikan perhatiannya kepada qalam dan tulis menulis, kepada ilmu dan mempelajarinya.
               Dengan memperhatikan ayat ini saja, cukuplah sudah untuk menegaskan bahawa Islam itu agama ilmu dan agama akal. Islam menghendaki supaya pemeluknya pandai memegang kalam dan otaknya penuh dengan aneka rupa ilmu.
               Allah menurunkan wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad saw, merupakan pemberitahuan dan seruan yang pertama dari Allah, yang juga menyatakan perang terhadap kebodohan dan menetapkan membaca serta belajar merupakan landaan pertama dalam pembangunan tiap-tiap orang besar. Yang memperkuat pendapat ini adalah Allah sendiri telah bersumpah dengan qalam dan meninggikan peranannya, sebagaimana firman Allah surah Al-Qalam, ayat 1 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.”
               Oleh kerana itu Allah memuliakan para ulama dan diberikanNya sifat yang cukup tinggi, yang oleh manusia sifat itu dijadikan tujuan berlomba dan dengan mati-matian mereka berebut mendapatkannya,
               Allah berfirman dalam surah al-Mujadilah ayat 58:11 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “....Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berimu pengetahun itu beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kejakan.”
               Allah akan meninggikan darjat orang-orang Mukmin lantaran mereka mematuhi perintah Allah dan perintah rasul-Nya. Begitu pula orang-orang yang berilmu pengetahuan. Sebenarnya orang yang berilmu pengetahuan itu tinggi benar darjatnya, bukan saja di kampung akhirat, malahan juga di atas dunia ini dalam pandangan manusia orang yang mempunyai pengetahuan dipandang tinggi. Dan biasanya pula pandangan itu ditumpukan kepada ijazah-ijazah. Siapa yan memiliki ijazah pengajian, maka mudahlah mendapat kedudukan dan senanglah mendapat pekerjaan.
               Tentu saja bukan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ibadat semata-mata, malahan juga semua ilmu pengetahuan yang berfaedah untuk kepentingan dunia dan juga akhirat. Sebab itu kaum Muslimin digesa supaya kuat menuntut ilmu, biar di bumi mana saja ilmu itu berada.
               “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
               Allah tahu bagaimana mestinya memberi pembalasan di atas apa yang kamu kerjakan. Sesiapa yang berbuat baik dibalas baik dan berbuat jahat dibalas jahat ataupun diampunkan-Nya.
               Beriman kepada Allah menenangkan Jiwa. Kesempurnaan hidup semestinya dengan iman. Yang paling asas dalam Islam adalah beriman kepada Allah SWT. Mempercayai adanya Allah SWT akan memperolehi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
               Kebahagian hidup di dunia dan akhirat inilah merupakan cita-cita semua umat manusia terutama umat Islam. Cita-cita tersebut dikategorikan sebagai ujian Allah S.W.T. kepada setiap insan. Jawapan itu nanti menjadi kebahagian hidup di dunia dan di akhirat. Maka itu yang dapat menjawab dan memberikan bimbingan ke arah itu hanyalah Islam.
               Beriman kepada Allah ialah meyakini dengan sesunggunya melalui proses kejiwaan, yang meliputi perasaan, fikiran, sekaligus sikap dan perbuatan untuk membuktikan iman tersebut. Kehadiran iman dalam diri setiap individu menggapai kesempurnaan hidup sebagai hamba Allah S.W.T.
               Beriman kepada Allah, akan menghasilkan jiwa yang tenang dan tenteram, sebab dalam meyakini adanya Allah kita akan memahami akan sifat-safat Allah SWT yang Maha Agung. Akhirnya jiwa kita akan merasa damai dan hidup dalam suasana yang dicita-citakan.
               Islam tidak sukar diterima oleh setiap manusia, kerana ianya sesuai dengan kemanu- siaan itu sendiri. Allah SWT dalam Al-Qur’an telah menjelaskan bahawa Dialah yang mengatur dan memiliki segala yang ada di alam ini. Firman Allah surah Al-Hasyr ayat 59:22 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
               Ayat di atas menjelaskan bahawa Allah-lah yang menguasai dan  memiliki seluruh Alam ini. Hanya Dia-lah Tuhan, tiada Tuhan selain Dia, kerana Dia mempunyai kekuasaan mutlak terhadap sesuatu. Semua yang ada di alam ini ciptaan-Nya, lemah dan kecil dihada pan-Nya. Maka akan resahlah jiwa seseorang jika mencari kebenaran itu selain Dia.
               Allah mengetahui segala yang ghaib dan segala yang nyata, semua yang dilakukan-
Nya sesuai dengan pengetahuan-Nya yang luas meliputi segala sesuatu. Dengan sifat-Nya itu
membuktikan bahawa segala sesuatu itu berada dalam pengawasan Allah SWT. Begitu juga
pimpinan Allah terhadap alam semesta, berlaku menurut sunatullah dan dalam menempuhi kehidupan, manusia harus menurut hukum sunatullah.
               Sistem kehidupan yang diatur oleh Allah SWT merupakan corak yang mutlak kebena- rannya. Bukan seperti sistem yang dibuat oleh manusia yang selalu saja berubah, kerana diang gap tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Jika manusia masih memegang pemimpin selain daripada Allah, maka akan bertambahlah keresahan jiwanya. Firman Allah SWT dalam surah At-Taubahlah ayat 9:32-33 yang bermaksud: (Terjemahan)
               “Mereka berkeinginan memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut atau ucapan-ucapan mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk Al-Qur’an dan agama yang benar untuk menenangkan-Nya atas segala agama  walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”
               Ketua-ketua orang-orang Yahudi dan Nasrani telah berusaha hendak menghapuskan agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. dengan cara mereka mendustakan Baginda.
               Setengah kaul menyebutkan bahawa yang dimaksudkan dengan an-nur (cahaya) dalam ayat ini ialah bukti yang menunjukan benarnya kenabian Muhammad s.a.w. yang berupa:
               1. Bukti yang berupa mukjizat, iaitu perkara-perkara luar biasa yang berlalu pada diri Nabi Muhammad (s.a.w.)
               2. Bukti yang berupa al-Qur’an iaitu kitab suci yang diturunkan oleh Allah ke atas Nabi Muhammad (s.a.w.) juga sebagai mukjizat yang akan kekal selama-lamanya dan menunjukkan atas  benarny kenabiannya.
               3. Bahawa agama yang diserukan oleh Nabi (S.A.W.) ialah agama Islam, iaitu agama yang di dalamnya tidak ada sebarang perintah kecuali supaya menyanjung Allah serta tunduk kepada apa yang diperintahkan dan yang ditengah-Nya, sama ada perkara seruhan supaya beribadat hanya kepada Allah semata-mata mahupun surhan supaya membersihkan diri dari beribadat kepada yang lainNya.
               Semua perkara ini sudah cukup terang dan jelas untuk membuktikan bahawa Muham mad (s.a.w.) adalah sebenarnaya seorang nabi dan pesuruh Allah. Barang siap yang cuba menghapuskan kebenaran itu atau mendustakannya pasti akan kecewa dan usahanya tetap gagal. 
               Demikianlah percubaan hendak menghapuskan agama Islam semenjak kebangkitan Nabi Mhammad (s.a.w.) yang telah dilakukan oleh orang-orang Ahli Kitab baik berupa peperangan mahupun berupa fitnah dan sercaan untuk merosakkan iktikad dan kepercayaan kaum Muslimin, maka tiap-tiap satu daripadanya adalah dimaksudkan untuk memadamkan cahaya Allah dari terus bersinar. Tetapi apakah tindakan Allah? Jawabnya ialah firman-Nya berbunyi:(Terjemahan)
               “Tetapi Allah enggan melainkan hendak menyempurnakan cahaya-Nya itu meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”
               Allah berjanji kepada Nabi Muhammad (s.a.w.) akan menambahkan kepadanya kemenangan demi kemenangan dalam perjuanannya menyiarkan agama Islam dari semasa ke semasa sehingga sempurnalah ketinggian kalimat-Nya dan keunggulan agama-Nya, yang seolahnya bukan purnama sedang mengambang penuh untuk menyinarkan cahayanya ke seluruh permukaan bumi, meskipun orang-orang kafir itu tidak menyukainya.
               Menangani ujian Allah menjadi keutamaan dalam menghadapi pembangunan kehidu pan kerana Allah bekalkan kita berbagai fitrah demi membantu kita menyempurnakan ibadah dan muamalah hidup. Kegagalan dan kejayaan dalam hidup harus difahami sebagai ujian Allah dan harus difahami bahawa kegagalan itu merupadakan kejayaan  yang tertunda; manakalah kejayaan itu pula merupakan ujian Allah kepada individu berkenaan agar jangan bersifat megah dan angkoh kelak menjemput  perasaan sombong kerana memikirkan kejayaan nya menempatkannya ketahap lebih tinggi berbanding orang lain.
               Ketahuilah bahawa segala usaha dan ikhtiar yang kita laksanakan demi menemukan penyelesaian satu-satu masalah wajar difahami sebagai tawakal. Tawakal ertinya menyerah kan diri kepada Allah SWT. Menurut Al-Ghazali tawakal itu ialah berpegang kepada Allah, tetap dalam hati menyerahkan diri kepada Allah, sedikitpun tidak berpaling daripada keyaki- nan itu.
                    Ada tiga tingkatan tawakal itu:
i.   Percaya kepada Allah sebagai wakilnya yang sebenarnya.
ii.  Percaya akan haknya terhadap Allah seperti kepercayaan seorang anak kepada ibunya.
iii. Menyerah diri dan segala pekerjaannya kepada Allah.
                    Semangat tawakal yang sebenar mengimplikasikan bahawa kita sedar dan yakin bahawa penentuan terakhir berada pada kekuasaan Allah. Sesungguhnya Allahlah yang menentukan kebaikan, kejayaan, dan  kebahagian hidup manusia. Bagaimanapun, Allah mene tapkan sesuatu ketentuan di atas diri manusia dengan adil. Allah berfirman surah Ali Imran ayat 3:18 yang bermaksud: (Terjemahan)
                    “Dan (ingatlah) sesungguhnyaAllah tdk sekali-kali berlaku zalim terhadap hamba-hamba-Nya.”

                    Ringkasnya, tawakal bukan merujuk perbutan menyerah untung nasib diri kepada Allah dengan tidak perlu berusaha dan berikhtiar. Sebaliknya, tawakal membabitkan dua proses yang saling berkait, iaitu menyerahkan nasib diri kepada Allah dari satu sudut, dan penggunaan seluruh tenaga fizikal, mental, dan rohani untuk mengubah keadaan diri sendiri dari sudut yang lain.